Anak Semata Wayang # 7

 

Bab 7 Hari Sial Tanpa Ujung

Cahaya matahari menyusup lembut melalui celah-celah dedaunan pohon jambu, menciptakan pancaran sinar yang cerah dan memukau. Sinar tersebut menyentuh wajah Ragil, yang perlahan mulai bergerak, terbangun dari tidurnya yang nyenyak.

Dengan lembut mengusap matanya, Ragil merasakan kehangatan sinar matahari yang menyelimuti dirinya, memberikan rasa nyaman yang menenangkan setelah tidur siang yang singkat. Sensasi ini seolah menghidupkan kembali semangatnya, menyegarkan tubuhnya yang sempat terlelap.

Dia bangkit dan duduk, matanya terfokus pada hamparan persawahan yang membentang luas. Suasana siang itu begitu tenang, namun dia belum menyadari bahwa ada seseorang yang sebelumnya berada di tempat itu dengan tujuan tertentu terhadapnya.

Ragil berdiri dengan tubuh telanjang dada, memandang ke arah ladang yang menunggu. Dia merasa tidak terburu-buru untuk mengenakan bajunya yang tergeletak di tepi dipan, belum ada niatan untuk memakainya.

Matahari agak condong ke barat, tapi sinarnya masih agak panas, dengan desahan panjang ragil melangkah mengambil cangkul bersiap ke ladang.

Suasana masih terasa panas dan lembap, membuatnya merasa tidak nyaman. Dia pun mengambil keputusan untuk tidak mengenakan kaosnya lagi, memilih untuk merasakan angin yang sejuk menyentuh kulitnya. Dengan begitu, dia berharap bisa sedikit mengurangi rasa gerah yang menyelimuti tubuhnya.

Lalu dia melangkah pergi menuju ladang dengan bertelanjang dada.

Seandainya Aji melihat kejadian itu sekarang, mungkin hatinya akan terasa seperti ditimpa truk sampah. Semua usaha keras yang dia lakukan seolah-olah menguap seperti embun pagi, dan harapan yang dia miliki meleset jauh, seperti panah yang ditembakkan ke arah bulan. Rasanya seperti berjuang melawan angin, tapi anginnya malah ketawa terbahak-bahak.

Sementara itu, Ragil dengan santainya meluncur dari rencana jahatnya seperti peluncur seluncur es di arena. Tanpa sadar dia berhasil menghindari semua jebakan yang Aji siapkan.

----

Sore itu, di jalan setapak menuju sendang desa, Aji mengajak temannya untuk bersembunyi di semak-semak dibalik tikungan.

"Eh, kita ngapain di sini?" tanya temannya, masih bingung dengan rencana Aji yang misterius.

Aji hanya menjawab singkat, "Tenang, aku cuma mau memastikan sesuatu."

Temannya pun semakin penasaran, membayangkan apa yang ada di pikiran Aji.

Sambil menunggu, Aji mulai berkhayal tentang Ragil yang akan muncul dengan kaosnya yang telah dia beri jelatang.

Dia membayangkan betapa lucunya jika Ragil tiba-tiba menderita gatal-gatal dan bentol merah di seluruh tubuhnya.

"Ah, itu pasti akan jadi tontonan yang menghibur!" pikir Aji sambil tersenyum lebar, sementara temannya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Aji yang aneh.

Aji merasa yakin Ragil pasti akan datang ke sendang sore ini, karena dia tahu betul kebiasaan para pemuda desa yang suka mandi sore.

"Kalau dia muncul, kita bisa lihat aksi lucunya!" Aji berbisik penuh semangat.

Temannya hanya bisa berharap agar rencana Aji tidak berujung pada masalah yang lebih besar, karena kadang-kadang, rencana Aji bisa jadi bumerang yang menggelikan!

"Apakah kita harus bersembunyi di semak-semak seperti ini?" tanya temannya dengan nada skeptis.

"Rasanya tidak nyaman banget, nyamuk-nyamuk ini kayaknya sudah bikin daftar menu di tubuhku," lanjutnya sambil menepuk-nepuk tangan untuk mengusir nyamuk yang sepertinya sudah menganggap mereka sebagai buffet gratis.

Aji, di sisi lain, tampak lebih gigih, meskipun nyamuk-nyamuk itu sudah mengadakan pesta di kulit mereka.

Keduanya berusaha bersembunyi setiap kali ada orang yang lewat di jalan setapak menuju sendang.

Mereka merunduk dengan penuh kehati-hatian, seperti ninja yang sedang berlatih, tetapi tetap saja, sosok yang mereka tunggu-tunggu belum juga muncul.

Sementara itu, gigitan nyamuk mulai meninggalkan jejak merah di pipi dan lengan mereka, membuat Aji bertanya-tanya apakah ini semua sepadan.

"Kau yakin kita harus tetap menunggu di sini?" tanya temannya dengan wajah yang mulai menunjukkan tanda-tanda keputusasaan.

Muka Aji mulai muram, dan saat temannya berencana untuk pergi mencari tempat yang lebih bersih, harapan Aji seolah mulai memudar.

Namun, saat temannya sudah berdiri, Aji tiba-tiba melihat sosok yang mereka tunggu dari kejauhan. "Tunggu! Orang itu datang! Sembunyi lagi!" serunya dengan bersemmangat.

Keduanya kembali bersembunyi di semak-semak, berharap nyamuk-nyamuk itu tidak menganggap mereka sebagai teman baik yang bisa diajak ngobrol.

---

Sosok Ragil melangkah dengan percaya diri, dada telanjang memancarkan aura maskulin yang memikat.

Di mata Aji, Ragil tampak tenang, cangkul terletak di pundaknya seolah menjadi bagian dari dirinya.

Aji merasa ada yang aneh, mengerutkan dahi saat melihat Ragil berperilaku biasa, jauh dari bayangannya yang penuh kekhawatiran.

Tidak ada tanda-tanda kemerahan atau ruam di kulit pemuda itu, membuat Aji bertanya-tanya tentang ketahanan kulit Ragil terhadap racun jelatang.

Dengan rasa penasaran yang menggelora, Aji memutuskan untuk muncul dari tempat persembunyiannya.

Dia berdiri dan melompat keluar dari semak-semak, tiba-tiba muncul di sisi jalan

Begitu Aji melompat keluar dari semak-semak, Ragil hanya melirik sekilas, seolah-olah melihat seekor kucing yang tiba-tiba melompat.

Tanpa merasa terganggu, Ragil terus melangkah maju dengan tenang, seolah-olah Aji adalah bagian dari pemandangan biasa.

Aji merasa seperti badut yang baru saja mengacaukan pertunjukan, sementara Ragil tetap melanjutkan perjalanannya, seolah-olah tidak ada yang aneh terjadi.

Aji merasa jantungnya berdegup kencang, terpesona oleh ketenangan Ragil yang kontras dengan kegugupannya sendiri.

Dalam momen itu, Aji menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar penampilan fisik.

Ragil bukan hanya sekadar sosok yang kuat, tetapi juga memiliki ketenangan yang menenangkan jiwa.

Aji terpesona, dan dalam hatinya, dia mulai merasakan benih-benih ketertarikan yang tak terduga.

Aji melangkah mendekati Ragil dengan gaya seolah-olah dia baru saja memenangkan lomba lari.

"Hei, kamu baik-baik saja, kan?" tanyanya tiba-tiba, seperti detektif yang baru menemukan petunjuk.

Ragil, yang tampak lebih fokus pada pikirannya daripada Aji, menjawab tanpa menoleh, "Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Seolah-olah dia baru saja diserang oleh segerombolan pengkritik mode.

Aji pun melanjutkan langkahnya, kini berdiri di samping Ragil sambil mengamati kulitnya yang berwarna sawo matang dan sedikit berkeringat.

"Wow, kulitmu ini seperti iklan lotion, tidak ada kemerahan atau ruam sama sekali," ujarnya sambil berusaha menilai dengan serius.

"Tapi, akhir-akhir ini, kamu tidak merasa gatal, kan?" tanya Aji dengan nada penuh selidik, seolah-olah dia sedang memeriksa kesehatan Ragil di tengah pasar.

Ragil tiba-tiba berhenti dan menatap Aji dengan tatapan tajam, seolah-olah Aji baru saja mengungkapkan rahasia besar.

"Apa kamu sedang mengolok-ngolok aku?" tanyanya dengan nada yang lebih tinggi, seolah-olah dia baru saja menemukan bahwa dia tidak diundang ke pesta.

Aji cepat-cepat menjawab, "Tidak, tidak! Aku hanya peduli, serius!" Namun, Ragil tidak terkesan.

"Lantas, apa maksud pertanyaanmu itu?" serunya, seolah-olah Aji baru saja mengajukan pertanyaan ujian yang sulit.

Ragil pun berbalik, kini dia yang melangkah mendekati Aji dengan ekspresi wajah penuh rasa ingin tahu.

Dia mengamati wajah Aji dari jarak dekat, seolah-olah sedang meneliti spesies baru di kebun binatang.

Aji terlihat kikuk, seperti patung yang baru saja diukir, tidak tahu harus berbuat apa.

"Kalau aku perhatikan, sepertinya kamu yang punya masalah," kata Ragil sambil mengangkat alisnya dengan nada mengejek.

Aji, yang masih terkejut, langsung menunjuk dirinya sendiri dan bertanya, "Aku? Masalah? Apa yang salah dengan diriku?"

Ragil pun tidak bisa menahan tawa melihat kulit pipi dan lengan Aji yang penuh dengan bentol-bentol merah. "Lihat itu, kamu habis berburu nyamuk ya?" sindirnya dengan senyum lebar.

Aji pun baru menyadari bahwa tangannya memang dipenuhi bentol-bentol merah yang gatal, dan dia sudah menggaruk-garuk tanpa sadar.

"Pergilah, jangan mendekatiku lagi!" hardik Ragil sambil berbalik dan melangkah pergi.

Aji yang terkejut hanya bisa terdiam sejenak, sebelum akhirnya berteriak, "Tunggu..!"

Sepertinya, drama ini baru saja dimulai!

Dia berusaha mengejar, tangannya berusaha meraih tubuh Ragil dari belakang.

Sial betul! Kaki Aji tersandung, dan tubuhnya terjengkang ke depan.

Dalam usaha yang heroik, kedua tangannya sempat menyentuh punggung Ragil, tapi sialnya, itu berkeringat dan licin seperti ikan goreng! Tangan Aji meluncur ke bawah dan... celana pendek Ragil pun tertarik jatuh ke tanah.

Situasi ini benar-benar kacau, Ragil kini berdiri telanjang bulat, kedua pantatnya yang bulat sempurna terekspos dengan jelas sementara Aji terjepit di bawah kakinya.

Ragil langsung berubah warna seperti tomat matang.

"Apa kau sudah gila?! Dasar tukang cabul!" teriaknya sambil berusaha menendang Aji.

"Mati kau, mati...mati! Tukang cabul!" Dia menendang dengan semangat seperti seorang juara tinju, sementara Aji hanya bisa bertahan, terjebak dalam situasi yang memalukan.

Temannya yang melihat dari jauh pun bingung, antara harus tertawa terbahak-bahak atau berlari membantu Aji yang terpuruk.

"Hentikan... aku tidak sengaja!" teriak Aji, suaranya penuh penyesalan.

Ragil cepat-cepat mengenakan celana pendeknya kembali, wajahnya masih merah padam.

"Pergi... jangan dekat-dekat aku lagi!" teriaknya sambil melangkah pergi dengan angkuh.

Aji hanya bisa duduk terpuruk, meratapi nasib sialnya hari ini.

"Segala sesuatu dengan niat jahat pasti tidak akan berakhir baik," gumamnya, sambil berharap besok tidak ada lagi kejadian serupa yang membuatnya jadi bahan tertawaan.


///Jangan lupa follow,  tinggalkan kritik dan saran buat penulis\\\


Komentar

Ads

Postingan populer dari blog ini

Anak Semata Wayang # 10

Anak Semata Wayang # 8

Anak Semata Wayang # 12