Anak Semata Wayang # 10
Bab 10 Menawarkan Bantuan
Aji itu seperti bayangan yang tak pernah mau pergi, selalu mengganggu Ragil di mana pun dia berada. Hari ini, tanpa rasa malu sedikit pun, Aji mengikuti Ragil ke ladang.
Dia bertekad mencari spot yang nyaman dan teduh di tepi ladang, lalu rebahan di bawah pohon sambil mengawasi Ragil bekerja dengan semangat yang menggebu-gebu, seolah-olah Ragil sedang melakukan pertunjukan sirkus.
Sementara Ragil berkutat dengan pekerjaannya, Aji berbaring santai, seolah-olah dia adalah raja yang sedang menikmati pertunjukan gratis.
Aji akan merasakan kepuasan luar biasa saat melihat Ragil beraksi di ladang. Dengan postur tubuhnya yang tinggi dan berotot, Ragil memancarkan aura kejantanan yang tak terbantahkan.
Setiap gerakan yang dilakukannya di tengah ladang akan dipenuhi dengan semangat, sementara tetesan keringat yang mengalir di setiap ototnya menambah pesona maskulin yang dimilikinya, seolah ia adalah seorang atlet binaraga yang sedang berlatih.
Dengan mata berbinar-binar, Aji mengamati setiap gerakan Ragil, seolah-olah dia sedang menonton film blockbuster. Saat Ragil merasa lelah dan memutuskan untuk beristirahat, dia akan melangkah ke gubug kecil di samping ladangnya. Dan, seperti magnet yang tak bisa dipisahkan, Aji pun akan segera muncul, seolah-olah dia adalah bayangan Ragil.
Ragil pun terheran-heran, "Apa kau ini anjing peliharaan yang selalu menempel ke mana pun aku pergi?, hari ini kau masih juga ikut ke ladang? Apa kau tidak punya pekerjaan lain yang lebih penting?" tanya Ragil dengan nada yang penuh sindiran.
"Kau tahu, orang-orang rumah sangat khawatir kalau aku terlalu capek mempersiapkan pesta. Mereka takut aku bakal tumbang sebelum acara dimulai. Jadi, mereka melarangku banyak membantu soal pesta, aku pun jadi pengangguran dadakan, yang bisa aku lakukan hanya mencari cara untuk menghabiskan waktu," kata Aji sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tapi kenapa kau selalu nempel di sampingku?" tanya Ragil dengan nada kesal. "Kau itu seperti bayangan yang tidak mau pergi, bikin aku kesal saja".
"Karena berada di dekatmu itu seru, seperti nonton film komedi yang tidak ada habis-habisnya!"
Ragil mendengus, "Omong kosong! Kau itu lebih banyak bikin masalah daripada hiburan!"
Aji hanya tersenyum malu dan menjawab, "Aku tahu, kadang-kadang aku memang bikin masalah dan kejutan! Tapi itulah yang bikin hidup ini seru dan menyenangkan, kan? Tanpa kejutan, hidup ini bagaikan nasi tanpa garam!"
"Tapi, seharusnya kamu meringkuk di rumah saja, tinggal beberapa hari lagi sebelum hari H, harusnya kamu dipingit?!" kata Ragil dengan serius. "Kamu tahu kan, tradisi ini sudah ada sejak zaman dinosaurus, seharusnya kamu lebih patuh!"
"Ah, itu kan tradisi kuno! Sekarang ini, siapa yang masih mau terjebak di rumah kayak penjara?!" sahut Aji sambil tertawa. "Lagipula, kalau dipingit, aku bisa-bisa mati karena saking bosannya!"
"katakan padaku kapan kau juga akan menikah?, Dengan wajah tampanmu yang bikin cewek-cewek desa berdesakan kayak antri sembako, pasti banyak yang mau jadi istrimu!" kata Aji sambil nyengir lebar.
"Kamu pikir nikah itu kayak beli gorengan di pinggir jalan? Apalagi buat orang miskin kayak aku, mau kasih makan anak orang pakai apa? Nanti anaknya malah jadi pengemis, bukan pengantin!" balas Ragil sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"lagian aku masih merasa muda, jadi nggak ada rencana buru-buru untuk menikah," kata Ragil lebih lanjut.
"Iya, bener juga sih, aku juga belum kepikiran untuk cepat-cepat menikah. Tapi orang tuaku udah terus-terusan ngingetin supaya semua anaknya segera menikah. Katanya sih, biar bisa menghindari zina, gitu," sahut Aji sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Ragil menatap Aji dengan ekspresi campur aduk, "Zina? Serius? Apa kamu udah sering melakukan itu di luar sana? Kok orang tuamu bisa berpikir kayak gitu tentangmu?" tanya Ragil dengan nada penasaran.
Aji pun langsung tersipu malu, "Ya, pernah sih, mencoba melakukannya beberapa kali waktu masih di kota," jawabnya pelan, seolah-olah baru saja mengungkapkan rahasia besar yang bisa bikin semua orang di sekitarnya terkejut.
"Mencoba?" Ragil mengangkat alisnya, Dia menatap Aji dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu, seperti detektif yang baru saja menemukan petunjuk penting dalam kasus hilangnya kue di dapur.
Aji pun tak mau kalah, dengan percaya diri dia menjelaskan, "Kamu tahu kan, hasrat di usia kita ini itu seperti popcorn di microwave, meledak-ledak setiap saat! Bahkan, setiap pagi, burung kita selalu tegak sudah siap beraksi sebelum kita sempat bangun dari mimpi indah," kata Aji sambil tersenyum nakal.
"Dan jangan salah, kita juga kadang-kadang bermimpi melakukan hal-hal 'itu' dengan orang yang bahkan kita tidak kenal! Itu sudah jadi bagian dari paket lengkap jadi pemuda, kan?" lanjut Aji dengan nada menggoda.
"Jadi, jujurlah padaku, apakah kamu juga merasakan hasrat yang sama untuk mencoba hal-hal yang 'menarik' itu?" tanya Aji, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Aku selalu sibuk di ladang, sampai-sampai nggak sempat mikirin hal-hal aneh kayak gitu," bantah Ragil dengan nada serius.
"Ah, itu sih omong kosong! Setiap pemuda pasti punya pikiran nakal tentang gadis-gadis," seru Aji sambil mengedipkan mata. "Coba deh, jujur aja, kapan terakhir kali kamu mimpi basah?" tanya Aji dengan nada menggoda.
"Nggak semua orang kayak kamu yang selalu mikirin hal cabul, makanya gak heran orang tuamu pengen cepat-cepat nikahin kamu," jawab Ragil sambil menggelengkan kepala.
"Eh, jangan malu-malu, ngomong aja! Itu kan bukan hal yang memalukan di antara pria," kata Aji dengan semangat. "Lagipula, aku udah pernah lihat 'senjata' kamu yang besar dan berurat itu, pasti kamu punya rahasia perawatan khusus, kan?" tanya Aji dengan nada lebih intim, bikin suasana makin konyol.
"perawatan khusus apa?, itu alami seperti itu dari aku lahir" bantah Ragil dengan percaya diri.
Aji langsung melotot, "Masa sih? Lihat aja penismu, itu kayaknya udah ikut kompetisi angkat beban! Urat-uratnya bisa bikin orang lain cemburu!"
Ragil berusaha bertahan, "Mungkin ini semua karena faktor genetik" jawabnya pendek
Aji terdiam sejenak, seolah-olah sedang merumuskan teori baru. "Tapi, seberapa sering kamu 'mengeluarkannya'? apa kau sudah keluarkan tadi pagi?" tanya Aji dengan nada penuh selidik.
Ragil langsung menjawab, "Ngapain juga aku kasih tahu kamu? Itu urusanku, bukan urusanmu!"
Aji tersenyum nakal, "Ayo, jangan malu-malu. Aku kan sudah jujur sama kamu tentang hal-hal itu. Kita kan teman, harus saling berbagi!"
"Apakah kamu tidak merasa aneh berbagi cerita-cerita seperti itu dengan orang lain?" tanya Ragil dengan ekspresi bingung.
"Kamu ini terlalu pemalu" ejek Aji sambil tertawa.
"Kenapa tidak kamu akui saja berapa kali kamu melakukan hal itu?" sindir Aji dengan nada menggoda. "kalau aku melakukannya setiap hari, bahkan lebih dari sekali dalam sehari" jawab Aji dengan bangga, seolah baru saja memenangkan medali emas di Olimpiade.
"Kamu pikir itu minum obat harus sampai dua kali sehari?" seru Ragil, tidak percaya.
"Tentu saja! Nafsu pemuda seperti kita ini sangat tinggi, jadi satu-satunya cara untuk mengendalikannya adalah dengan mengeluarkannya," kata Aji dengan serius, seolah sedang memberikan kuliah tentang biologi. Ragil hanya bisa menggelengkan kepala, merasa seperti sedang mendengarkan ceramah dari dosen yang terlalu bersemangat.
"Pernahkah kamu bermasturbasi dengan temanmu?" tanya Aji, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Apakah kamu pernah melakukan hal-hal aneh seperti itu?" Ragil merasa aneh dan sedikit risih.
"Itu hal biasa di kota, kamu tahu? Ketika ada teman yang membantu, sensasinya jauh lebih nikmat dibanding melakukannya sendirian," jelas Aji.
Ragil mengerutkan kening, "Kami di desa tidak melakukan hal-hal memalukan seperti itu."
"Bagaimana bisa? Kalian saja mandi telanjang bareng, tapi untuk urusan itu merasa malu?" tanya Aji, bingung dengan logika Ragil. "Apakah kau ingin mencoba, aku siap membantumu," tanya Aji sambil mendekati Ragil dengan penuh harapan.
"Dasar cabul dan tidak tahu malu, menjauhlah dariku," balas Ragil dengan nada tegas, menolak kehadiran Aji yang semakin mendekat.
Aji menunjukan muka cemberut dengan penolakan Ragil, "itu bukannya aku hendak mencabulimu, aku hanya ingin mengajarimu hal-hal menyenangkan yang bisa dilakukan diantara sesama pria" ujarnya pelan
"aku akan melakukannya sendiri ketika aku menginginkannya" kata Ragil
Aji melanjutkan ceritanya dengan semangat yang menggebu-gebu, seolah-olah dia sedang membagikan rahasia besar kepada Ragil.
"Dengar, sama seperti waAji yang punya titik-titik sensitif, pria juga punya! Dan untuk menemukannya, kadang kita butuh bantuan orang lain. Nah, kalau kamu sudah menikah, istrimu bisa jadi partner yang tepat. Tapi, karena kamu masih lajang, siapa lagi yang bisa membantu kalau bukan temanmu? Lagipula, tidak ada yang memalukan jika seorang teman membantu temannya, kan?" Aji berkata sambil tersenyum nakal
Ragil hanya bisa mengangguk, tetapi dalam pikirannya, dia membayangkan situasi konyol di mana dia harus meminta bantuan teman-temannya untuk menemukan titik-titik sensitif itu.
"Jadi, maksudmu aku harus mengajak teman-temanku untuk eksperimen? Bayangkan saja, kita berkumpul di rumah, dan tiba-tiba ada sesi pelatihan titik sensitif! Pasti bakal jadi bahan tertawaan seumur hidup!" Ragil tertawa terbahak-bahak, membayangkan betapa absurdnya situasi itu
"Tidak-tidak, kamu hanya boleh meminta tolong hanya kepadaku," sahut Aji dengan cepat, seolah-olah dia baru saja mengeluarkan pernyataan yang sangat serius.
"Kenapa begitu?" tanya Ragil, penuh rasa curiga.
"Karena aku ahlinya, sedangkan yang lain bukan," jawab Aji sambil tersenyum lebar, seolah-olah dia baru saja mendapatkan gelar doktor dalam bidang titik sensitif.
Ragil yang selalu ingin tahu langsung melontarkan pertanyaan, "Serius nih, ada hal-hal seperti itu?"
Aji, dengan senyum lebar dan rasa percaya diri yang menggebu, menjawab, "Tenang saja, aku ini sudah veteran dalam urusan ini!"
Dengan semangat yang membara, Aji mulai menceritakan kisah erotis yang penuh bumbu tentang petualangannya dengan para gadis di kota. Obrolan mereka semakin mengasyikkan, seolah-olah mereka sedang merencanakan misi rahasia untuk menyelamatkan dunia dari kebosanan.
Saat matahari mulai turun, Ragil dan Aji semakin terhanyut dalam percakapan yang membahas hal-hal tabu.
Ketika Aji melihat Ragil mulai bersemangat, dia tidak bisa menahan diri untuk menggoda. "Eh, lihat deh, sepertinya kamu mulai bernafsu hanya dengan mendengar ceritaku. Lihat burungmu itu, sudah berdiri kokoh begitu?" Aji menunjuk ke arah selangkangan Ragil dengan ekspresi nakal.
Batang kemaluan Ragil telah berdiri tegak di dalam celananya, itu membentuk gundukan besar tegak di area selangkangannya, terpampang nyata tanpa bisa disamarkan, terlihat jelas oleh Aji bahwa ukuran penis Ragil saat ereksi sangat besar diluar normal.
Ragil yang langsung tersipu malu berusaha menutupi area tersebut dengan tangannya, seolah-olah itu adalah rahasia negara yang harus dijaga ketat.
"Apa kau yakin tidak mau aku bantu keluarkan sekarang?" tanya Aji sambil tersenyum nakal.
Ragil pun terkejut dan berteriak, "Persetan, dasar cabul! Pergi sana!" sambil melompat turun dari gubuk.
Komentar
Posting Komentar