Anak Semata Wayang # 8
Bab 8 Drama Daging Bebek Berlanjut
Sore hari Ragil pulang kerumah, begitu Ragil melangkah masuk ke rumah, ia langsung disambut oleh suasana hening yang bikin telinganya berasa seperti di dalam gua.
Tidak ada suara berisik, tidak ada aktivitas yang mencolok, dan ibunya? Entah kemana, mungkin sedang bersembunyi dari drama sinetron yang tak kunjung usai.
Dalam pikirannya, Ragil berasumsi bahwa ibunya mungkin sedang di rumah bibinya, menikmati teh sambil menghindari cucian yang menumpuk.
Ragil merasakan perutnya keroncongan, seperti orkestra yang sedang berlatih tanpa henti.
Dia pun melangkah ke meja makan dan terkejut melihat simboknya sudah menyiapkan hidangan yang melimpah ruah.
"Wah, simbokku memang jago masak, hari ini sepertinya dia mau jadi chef bintang lima!" gumamnya sambil mengusap perutnya yang sudah berteriak minta diisi.
Tanpa membuang waktu, Ragil langsung duduk dan menyerbu makanan yang ada di depannya.
Di antara tumpukan makanan, dia melihat bebek panggang yang menggiurkan.
Air liurnya pun langsung mengalir seperti sungai yang tak tertahan, membayangkan betapa lezatnya hidangan kesukaannya itu.
"Simbok, kamu tahu saja apa yang aku inginkan, ya? Apa kamu punya bola kristal atau semacamnya?" pikirnya sambil tersenyum lebar.
Ragil tak bisa menahan diri lagi, dia mulai melahap makanan dengan semangat seperti seorang raja yang baru saja memenangkan perang.
"Mungkin simbokku adalah peramal makanan, bisa tahu apa yang aku inginkan sebelum aku sendiri menyadarinya!" ujarnya dalam hati.
Dengan setiap suapan, dia merasa semakin bahagia, seolah-olah semua masalah di dunia ini lenyap hanya karena bebek panggang yang lezat itu.
Dia teringat kembali insiden heboh di pasar yang melibatkan ayam panggang dan Aji tadi pagi.
Ragil, yang selalu punya cara unik untuk mengeluh, tampak sedikit kesal saat mengingat kejadian itu.
Sepertinya, anak itu memang punya bakat alami untuk membuat suasana jadi kacau, dan aku mulai berpikir, mungkin lebih baik aku menjauh darinya agar tidak terjebak dalam petaka yang lebih besar.
Setelah berusaha mengusir pikiran tentang Aji, Ragil pun kembali fokus pada makanan yang lebih menggoda: bebek panggang! Dia menggerogoti setiap potongan daging dengan semangat yang luar biasa.
Sisa tulang yang biasanya dianggap tidak berharga, baginya adalah harta karun yang harus disesap hingga bersih.
Dengan lahapnya, Ragil makan seolah-olah dunia akan berakhir besok.
Saat dia asyik menikmati makanannya, tiba-tiba terdengar suara motor yang berhenti di depan rumah.
Suara motor itu bikin telinga bergetar, kayak motor itu pengen ikutan makan bareng kita. Belum lama, suara simboknya muncul dari pintu, mengisi ruangan dengan suara yang seolah-olah dia baru saja memenangkan audisi untuk jadi pembawa acara talk show.
"Ayo masuk dulu, Nak Aji! Simbok mau bikin kopi biar kamu hangat dan enggak ngantuk," serunya dengan semangat
"Makasih, Mbok! Tapi saya udah dikejar-kejar sama orang rumah, disuruh pulang cepat-cepat!"
Si Ragil yang mendengar suara ibunya melongok dari ruang makan, langsung merasa seperti detektif yang baru saja menemukan petunjuk.
"Dari mana saja, Mbok? Kok pulangnya sore banget?" tanya Ragil dengan nada penasaran, seolah-olah ibunya baru saja kembali dari perjalanan ke Mars.
"Gil, ini loh ada tamu, kamu keluar dulu, temui!" sahut ibunya dengan semangat.
Si Aji yang mendengar suara Ragil dari dalam rumah, sejenak terdiam seperti orang yang baru saja melihat hantu.
Hatinya bingung, "apa aku menemui pemuda itu atau kabur saja ya?"
Setelah berpikir sejenak, dia memutuskan untuk tetap tinggal bertahan.
Lagipula, untuk merencanakan balas dendam, lebih baik dia mengenal musuhnya dulu, kan? Siapa tahu, musuhnya itu ternyata punya kelemahan, seperti takut sama kucing atau alergi sama debu.
"Siapa tamunya Mbok?" Ragil melangkah keluar dari ruang makan, seolah dia baru saja keluar dari film horor.
Begitu sampai di ruang tamu, dia melihat ibunya sedang asyik bercengkerama dengan seorang pemuda yang wajahnya terlihat seperti bayangan di malam hari.
Ragil pun mendekat, rasa ingin tahunya mengalahkan rasa takutnya. "Eh... kamu!" teriaknya kaget, seolah baru saja melihat hantu yang ternyata adalah Aji.
"Ngapain kamu di sini? Mau pinjam sendok atau sekadar mampir untuk mengganggu ketenangan hidupku?" tanyanya dengan nada sinis, seolah-olah Aji adalah penyebab semua masalah di dunia ini.
Simboknya menoleh dengan ekspresi kaget, lalu langsung melayangkan tangan ke arah anak laki-lakinya.
"Eh, nak! Gak sopan banget ngomong gitu sama tamu! Ini nak Aji, dia baru pulang nganterin simbok dari rumah si Sumi. Kalian udah saling kenal belum?" Simboknya menatap kedua pemuda itu bergantian, seolah sedang menilai siapa yang lebih layak untuk jadi menantunya.
Ragil, dengan ekspresi yang berlebihan seperti aktor sinetron, menarik baju simboknya dan berbisik seolah-olah sedang merancang rencana jahat.
"Jangan biarkan dia masuk, suruh saja dia pulang! Nanti dia bawa virus 'nggak enak' ke rumah, bisa-bisa kita semua jadi pasien rawat inap!"
Simboknya hanya bisa mengerutkan dahi, bingung dengan permintaan aneh dari anaknya yang sepertinya baru saja menonton film thriller.
"Virus 'nggak enak'? Apa itu, Ragil? Apakah itu sejenis makanan yang basi atau penyakit baru yang muncul di pasar?"
Aji masih berdiri kaku di depan pintu, seperti patung yang baru saja diukir, lalu dia memberikan senyuman manis ke arah si ragil.
Si ragil, yang sepertinya sedang berusaha menghindar dari tatapan Aji, langsung melengos seperti kucing yang melihat anjing.
Aji pun berkata, "Eh, mungkin satu cangkir kopi bisa bikin badanku hangat mbok?" sambil tetap tersenyum lebar ke arah ragil, seolah-olah dia baru saja menemukan cara untuk menghangatkan es krim.
Si ragil langsung melotot dengan mata sebesar bola pingpong, menatap Aji seolah-olah dia baru saja melihat hantu yang minta kopi.
"Ada maksud apa anak ini? Mau bikin aku terjebak dalam drama kopi?" pikir ragil dengan penuh curiga.
Dia merasa seperti detektif yang sedang menyelidiki kasus misteri, sementara Aji hanya ingin menikmati secangkir kopi dan mungkin sedikit drama.
"Wah, sepertinya stok kopi kita sudah menipis. Mungkin lebih bijak jika kamu menikmati kopi di rumahmu sendiri, Toh, di sana pasti lebih nyaman dan tidak ada yang mengganggu, kan?" cibir Ragil.
"Huss... simbok sudah stok kopi banyak banget pagi ini, Aji, ayo masuk dulu!"
Aji langsung melompat ke dalam rumah dengan senyum lebar, seperti baru saja menemukan dompet berisi uang tunai di jalan.
Dia pun mengikuti simbok yang melangkah dengan gaya bak model catwalk, sementara Ragil di belakangnya hanya bisa menggerutu, "Kenapa sih dari pagi harus berurusan dengan bocah nyebelin ini?"
Aji melangkah dengan penuh percaya diri menuju meja makan, matanya melirik makanan yang terhampar di atas meja.
Sepertinya ada yang baru saja mengadakan pesta makan, tapi sayangnya, pesta itu belum sepenuhnya selesai.
Saat matanya tertuju pada daging bebek panggang yang sudah hampir lenyap, Aji merasa seperti detektif yang menemukan jejak makanan yang hilang.
Di belakangnya, Ragil berdiri dengan ekspresi cemas, seolah-olah dia sedang menonton film horor yang tidak ada habisnya.
"Hei, bukankah kamu cuma mau ngopi? Kenapa harus duduk di meja makan? Mau ikut-ikutan mencuri makanan kami juga?" seru Ragil dengan nada yang lebih dramatis daripada sinetron.
Aji hanya tersenyum, seolah-olah dia baru saja menemukan cara baru untuk menghibur diri dengan drama makanan.
"Eh, kamu nggak suka daging bebek panggang, kan?" tanya Aji sambil menunjuk makanan yang tergeletak di meja, seolah-olah merasa seperti detektif yang baru saja menemukan bukti kuat di tempat kejadian perkara..
Ragil dengan wajah merah padam menjawab, "Oh, aku sih nggak suka, tapi bukan berarti aku tidak dapat memakannya!"
Aji mulai merasa ada yang aneh, "Kok rasanya kamu baru saja mengadakan festival daging bebek di sini?" tanyanya dengan nada curiga.
Ragil, yang sudah mulai merasa terpojok, hanya bisa tersenyum kecut. Dalam hati, dia berdoa agar bisa mengeluarkan Aji dari rumahnya dengan cara yang lebih halus daripada melemparnya keluar jendela.
"Aku ini bukan pemilih makanan! Kalau di luar, bebek ini sudah jadi makanan anjing!" ujarnya dengan semangat, meski hatinya bergetar.
Aji hanya bisa menggelengkan kepala sambil mencibir, "Omong kosong!, lihatlah tulang bebek itu sudah kamu sikat habis! Sepertinya kamu sudah mengadakan pesta tanpa undangan!"
Ragil berusaha keras untuk mempertahankan harga dirinya, meskipun semua bukti ada di depan mata.
Dia merasa seperti detektif yang tertangkap basah, dan Aji adalah saksi kunci yang tidak bisa dibohongi.
"Ya, ya, aku memang tidak membuang makanan, tapi itu hanya karena simbokku yang jago masak!" jawabnya, berusaha mengalihkan perhatian.
Tak lama kemudian, Mbok Ginem datang dengan secangkir kopi yang tampak menggoda untuk Aji.
"Wah, sepertinya kalian berdua sudah akrab banget ya," kata Mbok Ginem sambil tersenyum lebar, seolah baru saja melihat dua orang yang baru jatuh cinta.
Dia meletakkan kopi itu di depan Aji. "Nak Aji, makasih banyak ya sudah nganter simbok pulang sore-sore seperti ini," tambahnya dengan nada yang penuh rasa syukur.
Aji pun menjawab dengan senyuman, "Nggak masalah, Mbok. Saya juga berterima kasih karena Mbok Ginem mau repot-repot bantuin urusan pesta di rumah Sumi."
Dia merasa seperti pahlawan yang baru saja menyelamatkan dunia dari kebosanan, padahal hanya mengantar Mbok Ginem pulang.
"Eh, Gil, kamu udah makan belum?" tanya Mbok Ginem dengan semangat menoleh kearah anaknya.
"Kamu tahu nggak, Nak Aji bawa daging bebek itu buat kita!"
Begitu mendengar itu, wajah Ragil langsung berubah seperti langit mendung sebelum hujan.
"Daging bebek itu dari dia?" Ragil melongo, menunjuk Aji seolah-olah baru saja melihat UFO mendarat di halaman rumahnya.
"Nak Aji, dari mana kamu tahu kalau bebek panggang itu adalah makanan favorit Ragil?" tanya Mbok Ginem dengan nada penuh rasa ingin tahu.
Sepertinya Aji punya kemampuan super untuk membaca pikiran Ragil
Ragil seperti ingin mengajukan protes, tapi mulutnya terkatup rapat, mungkin karena dia masih terkejut dengan fakta yang baru saja terungkap di hadapannya.
Seolah-olah langit runtuh di atas kepala Ragil, dia mulai merenung, "benar-benar orang ini selalu membawa hal buruk di hidupku"
Rasanya seperti Mbok Ginem baru saja mengungkapkan semua aibnya di depan Aji, dan Ragil merasa seperti bintang film yang baru saja kehilangan perannya.
Wajahnya semakin kelam, bingung harus berucap apa untuk menyelamatkan muka.
"Ah, itu bukan masalah besar, Mbok," ujar Aji dengan senyum lebar, seolah-olah dia baru saja menyelamatkan dunia dari kehancuran.
Aji merasa sebagai pemenang dalam drama absurd ini, sementara Ragil? Dia hanya bisa terdiam, seolah-olah baru saja kalah taruhan di meja judi yang sangat tidak menguntungkan.
Ah, betapa dramatisnya hidup ini, terutama ketika daging bebek terlibat!
----Jangan lupa kritik dan sarannya---
Komentar
Posting Komentar