Anak Semata Wayang # 2
Bab 2 Yu Jem, Janda Desa
Ragil berdiri di depan warung yang sepi, pintunya tertutup rapat seolah menyimpan rahasia di dalamnya, Danu yang berlari di belakangnya hampir saja menabrak Ragil, seperti mobil yang remnya blong, karena tiba-tiba Ragil berhenti tanpa peringatan.
"kenapa berhenti?" serunya sambil berusaha menyeimbangkan diri. "Eh, sepi, kenapa warungnya kayaknya lagi libur nasional?" tanya Danu sambil mengintip dari belakang Ragil, seolah-olah dia sedang mencari harta karun yang hilang. "Apa kita datang kepagian, ya?"
Ragil menggelengkan kepala dengan ekspresi bingung, "Tapi biasanya, jam segini, warung ini udah kayak pasar malam, penuh orang ngopi!" Dengan rasa ingin tahu yang menggebu, Ragil mulai melirik ke kiri dan kanan, berharap menemukan pemilik warung yang mungkin sedang bersembunyi di balik dinding.
"Yu... Yu Jem, tutup warungnya Yu?" teriak Ragil dengan suara yang bisa bikin burung-burung terbang ketakutan. Ia melangkah ke samping warung, berharap bisa menemukan Yu Jem yang mungkin lagi asyik menjemur pakaian.
Danu, yang mengikuti di belakangnya, tampak seperti detektif yang lagi nyari petunjuk. Ragil berhenti sejenak, mendengar suara obrolan samar dari dalam rumah, tapi percakapan itu lebih misterius sayup-sayup tidak jelas.
"Kayaknya Yu Jem ada di dalam, yuk kita ketuk pintunya, siapa tahu dia lagi ada tamu,"
"Yu Jem...., warungnya belum buka Yu?" teriak Ragil lagi sambil mengetuk pintu samping rumah
Suara obrolan di dalam rumah tiba-tiba terhenti, hanya terdengar tawa perempuan yang lembut, seperti suara angin yang berbisik.
"Siapa?"
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat, dan pintu pun terbuka lebar, memperlihatkan seorang perempuan paruh baya yang tersenyum manis, seolah-olah baru saja memenangkan lomba senyum terindah.
Dengan kebaya yang sedikit terbuka dan rambut basah tergerai, dia menatap Ragil dan Danu dengan senyuman yang bisa bikin jantung berdebar.
"Oh, kamu Gil! Hari ini warung tutup, saya harus membantu Sumi bikin kue untuk pernikahannya minggu depan," ujarnya sambil mengedipkan mata, seolah-olah kue itu adalah rahasia besar yang hanya bisa diungkapkan kepada orang-orang terpilih.
Yu Jem masih memandang dua pemuda itu dengan senyum nakal, matanya terpaku pada otot-otot lengan Ragil yang kekar, seolah-olah sedang mengagumi patung marmer. Namun, pandangannya tak berhenti di situ, ia pun menurunkan tatapannya ke arah selangkangan Ragil dengan keberanian yang luar biasa, seolah-olah itu adalah pemandangan yang paling menarik di dunia.
Ragil yang merasakan tatapan tajam itu mulai merasa canggung, seperti ikan yang terjebak di dalam jaring, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang. Dengan dua tangan yang berusaha menutupi area sensitifnya, ia berdiri dengan pose ngapurancang
"Mbak Yu, aku mau beli garam sama cabai, dan Danu di sini pengen ngopi," kata Ragil sambil menarik Danu ke arah Yu Jem yang berdiri dengan anggun.
Danu, dengan senyum yang lebih mirip ikan mas, tidak bisa berhenti melirik Yu Jem, terutama bagian dada atas yang terbuka, seolah-olah ada iklan produk kecantikan yang bersinar di sana. Yu Jem, dengan gaya percaya diri, mengangkat dadanya seolah-olah berkata, "Lihatlah, Danu! Ini adalah pemandangan yang tidak boleh kamu lewatkan!"
Danu, yang sudah terpesona, berusaha keras untuk tidak terjatuh dari pesona sihir janda tersebut.
"Eh, Dan, jangan sampai keluar matamu itu yah!" goda Ragil sambil tertawa.
Sementara itu, Yu Jem hanya tersenyum, seolah-olah dia tahu betul bahwa dia adalah bintang utama dalam drama ini.
Dengan suasana yang penuh tawa dan sedikit ketegangan, Danu berusaha untuk tidak terlihat terlalu terpesona, meskipun hatinya sudah berteriak, "sungguh pesona surga dunia!"
"Besar atau kecil, Dan?" tanya Yu Jem tiba-tiba dengan senyum yang bisa bikin jantung berdebar, sementara Danu terdiam, seolah terhipnotis oleh pesona janda yang satu ini. Dia merasa seperti ikan yang terjebak dalam jaring, tidak bisa bergerak dan hanya bisa menatap dengan mata berbinar.
Ragil, yang tidak mau Danu terjebak lebih lama dalam pesona itu, langsung memberi pukulan ringan di belakang kepala Danu.
"Bangun, bro!" teriaknya, sementara Yu Jem hanya tertawa cekikikan, seolah melihat pertunjukan komedi.
"Jadi, gelas kopinya mau yang besar atau kecil?" tanya Yu Jem sekali lagi, membuat Danu tersadar dari lamunannya dan langsung menjawab, "Yang kecil saja, Yu," sambil mengusap kepalanya yang baru saja dipukul Ragil, seolah itu bisa menghapus rasa malunya.
"Yuk, masuk ke dalam dulu, duduk santai sambil nungguin kopi," ajak Yu Jem dengan dengan nada menggoda.
Sementara itu, Ragil berbisik pelan, "Eh, matamu itu udah mau loncat keluar tadi..."
Danu cuma bisa senyum lebar, seolah-olah dia baru saja memenangkan undian berhadiah, "Rejeki di pagi hari, Gil, masa mau ditolak, he..he.."
Yu Jem melangkah dengan gaya bak model catwalk menuju dapur, sementara Ragil dan Danu bergegas ke meja kecil yang terletak di sudut ruangan. Mereka duduk bersebelahan, seperti dua detektif yang sedang menyelidiki keindahan ruangan yang sederhana namun memesona ini.
Ruangan itu terlihat rapi dan bersih, dengan vas bunga sedap malam yang seolah-olah berpose di atas meja, mengeluarkan aroma yang bisa bikin siapa saja lupa diri. Di sudut meja, ada bekas gelas kopi yang sepertinya baru saja ditinggalkan oleh tamu misterius, membuat Ragil berperan sebagai Sherlock Holmes yang mencari jejak.
Mata Ragil berkeliling, menjelajahi setiap sudut ruangan dengan penuh rasa ingin tahu, tetapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan orang lain. Seolah-olah mereka berdua sedang berada di set film horor, di mana hantu-hantu yang tak terlihat bersembunyi di balik tirai.
"Mungkin tamu itu sudah kabur sebelum kita datang," celetuk Danu sambil tertawa, membuat Ragil mengangguk setuju. Di sudut yang lain, ada sebuah kamar tidur yang terpisah hanya oleh tirai tipis, di mana beberapa pakaian tergantung dengan anggun di dinding, seolah-olah mereka sedang berpose untuk majalah fashion.
"Gil, kalau kamu mau beli apa? Aku bisa ambilkan!" teriak Yu Jem dari dapur tiba-tiba, suaranya nyaring seperti iklan mie instan.
"Cukup garam dan cabe setengah kilo," jawab Ragil dengan agak gugup
Tak lama kemudian, Yu Jem muncul dengan membawa kopi dan belanjaan Ragil, menaruh kopi di depan Danu dan garam serta cabe di hadapan Ragil. Dengan gaya yang sangat dramatis, Yu Jem menarik kursi dan duduk di samping Ragil, "Eh, kenapa kamu tidak bantu di hajatan rumah Sumi, Gil?" tanyanya.
Ragil menggelengkan kepala, "Tidak ada yang kasih tahu aku"
Yu Jem dengan semangat menggebu menawarkan, "Gimana kalau kamu bantu aku bikin kue? Nanti aku kasih bonus spesial!"
Dia mendekatkan tubuhnya ke Ragil, seolah-olah sedang merayu, sambil dengan percaya diri meletakkan tangannya di paha Ragil. Tangan itu pun mulai beraksi, mengelus-elus dengan gaya yang seolah-olah sedang menguji tekstur kain sutra. Ragil merasakan bulu-bulu halus di tubuhnya berdiri tegak, seolah-olah sedang memberi hormat kepada raja yang baru datang. Hatinya bergetar hebat, seperti sedang menonton film horor di malam hari, dengan perlakuan yang tiba-tiba dan tidak terduga ini.
"Aku ini bukan tukang masak, nanti kue yang dihasilkan bisa-bisa jadi senjata pemusnah massal," kata Ragil tersenyum lebar, sambil menurunkan tangan Yu Jem yang bergerilya di pahanya.
Namun, Yu Jem tidak mau menyerah begitu saja. Ia mendekat lagi, duduk lebih dekat dengan Ragil, dan mulai mengelus lengan Ragil yang kekar itu dengan lembut. Tangan Yu Jem seolah-olah sedang berusaha mengubah lengan itu menjadi adonan kue, sesekali meremasnya dengan penuh cinta, seolah-olah berharap bisa mengubah Ragil menjadi kue yang lezat!
"Wah, sayang banget kalau otot-otot lenganmu itu cuma jadi pajangan tidak dimanfaatkan" goda Yu Jem dengan senyum nakal.
Ragil yang mulai merasakan kegelisahan seperti ikan yang terdampar di daratan menjawab, "Otot-otot ini lebih cocok untuk mencangkul di sawah, Mbak Yu."
Di tengah situasi yang bikin jantungnya berdebar, Ragil merasakan genggaman tangan Yu Jem yang tak kunjung lepas dari lengannya. Dengan penuh kehati-hatian, ia berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman itu, namun tanpa sengaja ia menyenggol Danu yang sedang menikmati kopi di sampingnya, hampir saja minuman itu tumpah ke mana-mana.
"Eh, aku juga punya otot lho, Mbak Yu," Danu tiba-tiba menyela sambil berpose layaknya model iklan, menunjukkan lengan putihnya yang lebih mirip lengan ayam.
Yu Jem hanya tertawa, seolah-olah sedang menonton pertunjukan komedi yang paling lucu di dunia.
"Tapi, tidak ada yang bisa menandingi kekuatan dan ukuran lengan Ragil," Yu Jem berkata sambil mengedipkan mata nakalnya.
"Aku lebih suka lengan yang berotot seperti Ragil, bukan yang ramping seperti milikmu, Dan," lanjutnya sambil tertawa kecil.
Ragil yang merasa sedikit risih pun berdiri dan melepaskan pegangan Yu Jem, menjauh sedikit ingin menghindari situasi canggung itu.
"Jadi, berapa total semua ini, Mbak Yu?" tanya Ragil sambil menendang kaki Danu dengan gaya yang seolah-olah itu adalah gerakan seni bela diri.
"Tunggu dulu, kopi ini belum habis, Gil," jawab Danu dengan santai.
"Iya, kenapa harus terburu-buru? Duduklah dulu sampai kopi Danu habis," sahut Yu Jem
Ragil pun menjelaskan bahwa ia harus segera mengantarkan bumbu masakan untuk ibunya, seolah-olah itu adalah misi penyelamatan dunia.
"Oke, bumbu itu gratis, tapi bisa tolong ganti lampu di kamarku? Lampunya mati semalam dan aku tidak bisa mencapainya," pinta Yu Jem dengan nada manja.
Danu yang mendengar langsung melontarkan pertanyaan, "kopi saya juga gratis, ya Mbak?" Yu Jem hanya bisa tersenyum sambil mengangguk, membuat Danu tersenyum lebar seperti anak kecil yang baru dapat permen, lalu segera memanggil Ragil untuk membantu mengganti lampu.
"Makasih, mbak Yu. Ayo, Gil, cepat ganti lampu kamar Yu Jem, sementara aku habiskan kopiku," perintah Danu dengan semangat.
Ragil melotot ke arah Danu, merasa bahwa bocah nakal ini sengaja mendorongnya ke janda cantik demi secangkir kopi gratis. Dengan napas berat, dia menatap Yu Jem dan mengangguk pasrah, seolah berkata, "Ya ampun, ini semua demi kopi!"
"Oke, Lampu yang mana yang perlu diganti?" tanya Ragil dengan berat hati.
"Yang itu, di kamar sebelah, Gil. Tunggu sebentar, aku ambil lampu cadangan," jawab Yu Jem sambil bergegas.
Ragil pun melangkah ke kamar yang ditunjuk, yang ternyata lebih mirip gua gelap daripada kamar. Lampu yang dimaksud menggantung tinggi, seolah-olah sedang berusaha kabur dari suasana suram yang hanya diterangi oleh cahaya kecil dari lubang angin. Di sudut ruangan, ada kemeja coklat dan udeng kepala biru yang menggantung, mungkin sisa-sisa fashion mantan suami Yu Jem yang sudah ketinggalan zaman, Ragil mengamati meja yang terabaikan di sudut ruangan dan memindahkannya ke tengah, seolah-olah itu adalah meja kehormatan.
Namun, setelah melihat ke atas, ia menyadari meja itu lebih rendah dari harapan, seperti impian yang tak kunjung tercapai. Tanpa pikir panjang, ia bergegas keluar untuk mengambil kursi dan menaruhnya di atas meja, berharap bisa menjangkau lampu yang tampak seperti bintang jatuh. Tak lama kemudian, Yu Jem datang dengan lampu pengganti, dan matanya langsung tertuju pada kombinasi meja dan kursi yang ditumpuk Ragil.
"Wah, apakah ini cukup aman, Gil?" tanyanya dengan nada cemas, seolah-olah melihat sirkus yang sedang beraksi.
"Oke, Mbak Yu, saya coba dulu ya," kata Ragil sambil melangkah ke tumpukan barang yang terlihat seperti menara Pisa.
Dengan penuh kehati-hatian, ia berdiri di atas kursi yang sepertinya sudah harus pensiun, berusaha meraih lampu yang menggantung tinggi seperti bintang di langit. Sementara itu, Yu Jem berjuang sekuat tenaga untuk menahan kursi agar tidak meluncur ke arah yang tidak diinginkan, seperti mobil yang meluncur di jalan licin.
Setelah perjuangan yang dramatis, Ragil akhirnya berhasil melepaskan lampu yang rusak. Ia mengulurkan tangan ke bawah, meminta lampu baru dengan ekspresi seolah-olah meminta makanan di tengah puasa. Yu Jem, dengan sigap seperti pelayan restoran bintang lima, menyerahkan lampu pengganti itu, dan Ragil pun siap untuk mengganti lampu yang rusak dengan yang baru.
Ketika tangannya sedang sibuk mengganti lampu, Ragil merasakan ada yang tidak beres, seperti ada benda yang sedang bermain di area selangkangannya yang seharusnya aman. Sebuah tangan sedang mendekap area kemaluannya, tangan itu seolah-olah sedang melakukan audisi untuk acara "Raba-Raba Terlarang".
Ragil menunduk dan melihat kebawah, rasa malu dan ketidakberdayaan menyelimutinya. Tangan itu tidak hanya sekadar meraba, tetapi mulai meremas dengan semangat yang melebihi batas normal, seolah-olah sedang mencoba mencari tahu apakah benda di dalam celana hidup atau mati. Dalam keadaan panik, Ragil berusaha menghindar, dia melompat dari kursi dengan harapan bisa kabur dari situasi yang memalukan ini.
Namun, gerakannya lebih mirip dengan tarian konyol, dan ia terjatuh dengan tubuh yang oleng, mendarat di lantai dengan wajah yang terbakar oleh campuran rasa malu dan kemarahan saat matanya bertemu dengan tatapan Yu Jem.
Situasi semakin kacau ketika Yu Jem, yang sepertinya tidak mengerti sinyal darurat, malah sengaja jatuh menubruk Ragil. Seolah-olah mereka sedang berlatih untuk sirkus, keduanya terjatuh dalam satu komedi yang tidak terduga. Ragil berusaha bangkit, tetapi setiap kali ia mencoba, Yu Jem malah menghalangi jalannya seperti penghalang jalan yang nakal.
Ini bukan cara yang tepat untuk berkenalan! teriak Ragil dalam hati, dengan segala kekacauan ini, satu hal yang pasti: mereka berdua mirip bintang film komedi yang terjebak dalam adegan yang sangat memalukan.
Mata Ragil bergetar seperti jeli yang baru saja ditaruh di atas meja, pikirannya seolah terhenti di tengah jalan, bingung seperti orang yang kehilangan arah di labirin. Sementara itu, Yu Jem, dengan gaya yang dramatis, jatuh ke atas Ragil seperti bintang film yang terjatuh dari langit, tubuhnya menempel erat seolah-olah sedang mencari Wi-Fi gratis di pelukan Ragil.
Tangan Ragil yang seharusnya berfungsi sebagai penghalang, malah terjebak di dua gundukan lembut di dada Yu Jem, yang rasanya seperti memegang marshmallow yang baru keluar dari oven. Ragil pun berusaha untuk tetap tenang, meskipun hatinya berdebar seperti drum band yang sedang parade.
Ini bukan situasi yang biasa, pikirnya, sambil berusaha mengalihkan perhatian dari kenyataan bahwa dia sekarang sedang berpelukan dengan Yu Jem yang sangat menggoda. Alih-alih menjauh, kedua tangannya malah seolah-olah terikat di sana, seakan-akan mereka sedang berpartisipasi dalam kompetisi 'siapa yang bisa bertahan lebih lama' di dunia pelukan. Sementara itu, Yu Jem hanya tersenyum, seolah-olah tahu betul bahwa Ragil sudah terjebak dalam jaringnya yang manis.
"Mbak Yu, apa yang sedang kamu perbuat? Kenapa tanganmu seperti sedang mencari harta karun?" protes Ragil dengan suara yang seolah-olah baru saja kehilangan dompet.
Namun, Yu Jem hanya mengangkat bahu sambil tersenyum lebar, "Santai saja, Gil. Aku cuma penasaran dengan 'barang' kamu. Ternyata, meski tidak dalam posisi tegak, ukurannya cukup mengesankan! Istrimu kelak pasti akan terkejut," katanya sambil tersenyum.
Ragil semakin gelisah, "Aduh, Mbak Yu! Ini bisa jadi bencana kalau ada yang melihat kita!" desisnya, wajahnya mulai memerah seperti tomat yang terlalu matang. Yu Jem hanya menggelengkan kepala, "sedikit memegang tidak akan merugikanmu kan?" Dia melanjutkan tawanya, membuat Ragil merasa mulai putus asa.
Suara berisik dari dalam kamar bikin Danu yang lagi asyik di luar jadi penasaran, langsung dia berlari masuk untuk lihat apa yang terjadi. Begitu masuk, matanya langsung bertemu dengan Ragil yang tergeletak di lantai, sementara Yu Jem dengan gaya dramatisnya jatuh di atas Ragil.
Tangan Ragil terjebak dalam dua gundukan kembar yang bikin Danu pengen teriak, "Ini bukan film komedi romantis, guys!"
Danu pun terdiam sejenak, mulutnya terbuka lebar, kayak ikan yang lagi kehabisan oksigen, nggak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya. Tapi, Danu cepat-cepat memalingkan wajahnya, berusaha untuk tidak melihat adegan yang lebih mirip sinetron daripada kenyataan itu.
Dia berpikir, "Aduh, mendingan balik ke ruangan lain deh, daripada jadi saksi bisu drama yang nggak ada habis-habisnya ini!". Dengan langkah pelan, Danu berusaha untuk tidak mengeluarkan suara, seolah-olah dia lagi main petak umpet dan berharap tidak ketahuan.
Ragil, seperti superhero yang baru saja mendapatkan kekuatan, melompat dari tempatnya dan dengan cepat melepaskan diri dari pelukan Yu Jem. Dia menarik lengan Danu, memutar tubuhnya seolah-olah sedang menari salsa, dan mendorongnya ke arah Yu Jem.
Wajahnya merah padam, mungkin karena malu atau mungkin karena dia baru saja menyadari bahwa area pribadinya barusan diraba-raba orang asing. Tanpa pikir panjang, Ragil melesat keluar dari kamar, melewati meja dengan gerakan dramatis sambil meraih barang belanjaan yang sepertinya lebih penting daripada situasi yang baru saja terjadi.
Setelah berhasil melarikan diri, Ragil melangkah keluar menuju pintu rumah, dia merasa seperti bintang film yang baru saja menyelesaikan adegan paling menegangkan, meskipun sebenarnya dia hanya berusaha menghindari situasi canggung.
Dari dalam kamar, Danu berteriak memanggil Ragil, "Gil, tolong bantu... eh, tunggu dulu...., jangan kabur!" Tapi teriakannya langsung tenggelam dalam gelak tawa Yu Jem yang seolah-olah sedang menggelar konser.
Ragil di luar rumah berdiri seperti patung, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Beberapa menit kemudian, Danu muncul dengan wajah bodoh dan senyum lebar, seolah baru saja menemukan harta karun di bawah bantal. Ragil, yang sudah terlanjur bingung, menarik tangan Danu dan mengajaknya pergi dari situasi yang semakin absurd ini.
Sementara itu, di dalam kamar, Yu Jem tersenyum puas sambil bergumam, "Rejeki tak akan lari kemana!" Sepertinya, hari itu adalah hari di mana semua orang mendapatkan pelajaran berharga tentang cara berteriak dan tertawa sekaligus.
Komentar
Posting Komentar