Anak Semata Wayang # 3

 Bab 3 Pertemuan di Sendang

Setelah seharian berjuang melawan lumpur di ladang, Ragil melangkah dengan gontai menuju sendang di ujung desa. Seperti biasa dia akan selalu membersihkan diri dan mandi sebelum kembali ke rumah. Dengan cangkul yang seolah-olah menjadi tongkat sihirnya, ia melangkah pelan, meski tubuhnya masih berlumuran tanah, pesona ketampanannya tetap bersinar seperti bintang di malam hari.

Ragil, tak begitu peduli dengan penampilannya yang kotor, meskipun begitu, wajahnya terlihat seperti cuaca mendung, seolah-olah ia masih terjebak dalam kenangan pahit di warung Yu Jem pagi tadi. Insiden itu membuat hatinya bergetar seperti gitar yang dipetik sembarangan, karena ada orang yang berani meraba area pribadinya.

Dengan napas yang lebih panjang dari antrian di warung kopi, Ragil berusaha mengusir pikiran itu dan mempercepat langkahnya, Ragil melangkah dengan semangat, meski hatinya masih bergejolak seperti popcorn yang baru saja dipanaskan.

Ia berusaha untuk tidak memikirkan insiden yang membuatnya merasa marah dan jengkel, dengan tekad yang kuat, ia melanjutkan perjalanan menuju sendang, berharap bisa menemukan ketenangan di sana yang bisa mengusir semua pikiran buruknya.

Di pinggir desa, ada sebuah sendang yang airnya jernih banget, sampai-sampai bisa dipakai untuk cermin! Tempat ini jadi favorit penduduk dan pemuda desa untuk menjalani aktivitas sehari-hari, terutama saat mandi. Di sendang ini, ada aturan tak tertulis dimana para wanita datang di pagi hari, sementara para pria baru muncul di sore hari, mungkin setelah berjuang melawan rasa malas.

Ragil melangkah dengan penuh percaya diri menuju ujung desa, tempat di mana sendang bersembunyi di balik pepohonan besar. Jalan setapak yang menurun itu dikelilingi oleh sawah hijau yang seolah-olah berusaha mengundang Ragil untuk berlari lebih cepat, sesampainya di sana, Ragil mendapati beberapa pemuda sudah berkumpul, termasuk Danu yang tampak asyik berendam.

Dengan bebas dan santai kumpulan pemuda itu mandi tanpa sehelai benang pun, seolah-olah malu itu adalah barang langka yang hanya ada di toko-toko. Pemandangan ini sudah jadi rutinitas tiap sore, di mana para pemuda bercanda sambil membahas gosip dan kisah cinta para gadis desa, seolah-olah mereka adalah juri di ajang pencarian bakat cinta!

Hari ini, Danu tampak seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru saat bercerita kepada sekelompok pemuda yang mengerumuninya.

"Kalian pasti tidak akan percaya, janda cantik di desa ini, yang biasanya hanya melirikku dengan tatapan dingin seperti melihat kucing liar, tiba-tiba berani meraba-raba tubuhku! Dia bahkan tertawa riang saat melakukannya," ungkap Danu dengan senyum lebar, seolah-olah baru saja mendapatkan hadiah besar dalam undian.

Dalam sekejap, para pemuda itu berkumpul seperti semut yang menemukan gula, penasaran dengan apa yang sedang terjadi.

"Aku bahkan bisa memegang dan merasakan dua gunung kembar itu!, sangat kenyal....dan mengagumkan " Danu berkata dengan bangga.

"Tadi pagi, dia bahkan ngajak aku untuk melakukan hal 'itu', sungguh hari yang beruntung" tambahnya sambil menggaruk-garuk kepala, seolah-olah baru saja mengungkapkan rahasia besar yang bisa mengguncang dunia.

Semua mata tertuju pada Danu, yang kini terlihat seperti pahlawan yang baru pulang dari medan perang.

"Serius, guys! Ini bukan hoax!" teriaknya, berusaha meyakinkan teman-temannya.

Teman-temannya hanya bisa tertawa, membayangkan betapa dramatisnya cerita Danu ini, seolah-olah dia baru saja mengalami petualangan di film blockbuster. Rasa ingin tahu di antara mereka semakin membara seperti kompor yang dinyalakan tanpa pengatur suhu.

"Kalian tahu, aku ini bukan tipe yang lemah sama cewek, bahkan setelah satu jam kami beraksi, aku masih merasa kayak belum makan seharian," Danu berkata sambil tertawa, membual membanggakan vitalitasnya.

"Dia sampai minta istirahat, kayak mau recharge baterai sebelum kami lanjut lagi," tambahnya, membuat beberapa pemuda di situ melirik dengan ekspresi skeptis, seolah-olah mereka baru saja mendengar cerita dari alien yang jatuh ke bumi.

Ragil yang baru saja datang, langsung melangkah ke arah kerumunan dan mulai menyimak omongan Danu.

Wajahnya langsung berubah aneh saat mendengar cerita Danu, terutama saat Danu mengklaim menghabiskan satu jam untuk sesuatu yang tampaknya tidak masuk akal.

"Bajingan ini benar-benar berani, ya," pikirnya dalam hati sambil menggelengkan kepala, seolah-olah baru saja mendengar lelucon paling konyol di dunia.

Dengan rasa ingin tahunya yang tinggi, Ragil pun mendekati kelompok itu dan melontarkan komentar sarkastis, "Dasar pembual? Siapa yang mau percaya sama ceritamu itu?" tanyanya dengan nada skeptis, seolah-olah Danu baru saja mengklaim bahwa dia bisa terbang.

Kerumunan pun tertawa, seolah-olah mereka baru saja menyaksikan pertunjukan komedi yang paling menggelikan!

"Bagaimana mungkin orang sepertimu bisa bertahan lama dengan janda itu? Apa kamu yakin stamina kamu cukup untuk itu?" tanyanya sambil melirik ke arah Danu, yang tampak seperti ikan terjepit di antara dua batu.

Beberapa orang di sekitarnya mulai menoleh dan mengangguk, seolah-olah mereka baru saja mendengar pengakuan Danu tentang bisa terbang.

"Ya ampun, anak ini emang kebanyakan percaya diri dan suka pamer," celetuk salah satu pemuda dengan nada sinis.

Yang lain pun menimpali, "Imaginasi kamu udah kayak film sci-fi, bro! Mending kamu bikin film daripada cerita-cerita kayak gini!"

"terlalu membual dan tak tau malu" teriak yang lain

Setelah itu, kelompok itu mulai bubar satu per satu, meninggalkan Danu yang tampak seperti orang yang baru ditinggal pacar.

"Hei, aku tidak bohong, janda itu benar-benar menyentuhku!" teriak Danu.

"Apa kau pikir dengan ukuran barangmu itu bisa memuaskan janda itu?" sindir Ragil sambil melirik ke arah alat kelamin Danu, seolah-olah dia sedang menilai buah di pasar.

"Dan ingat, aku ada di sana saat itu terjadi, kurasa aku hanya menunggu dua menit di luar sebelum kamu keluar, he..he.." ledek Ragil, membuat Danu tersenyum malu.

"Setidaknya aku lebih percaya diri dibandingkan seseorang yang sudah lari hanya karena diraba," gumam Danu.

"Apa yang kau katakan sembarangan? Aku mendengarnya!" balas Ragil sambil menepuk kepala Danu, seolah-olah dia baru saja mengungkapkan rahasia negara.

Ragil melangkah ke kolam, dengan gaya yang sangat percaya diri, dia mulai membasuh tangan dan kakinya, lalu dengan santai melepas baju dan celananya.

Tubuhnya yang kekar itu seperti iklan sabun mandi, dengan tinggi yang proporsional dan otot-otot yang terlihat cukup menawan, seolah-olah dia baru saja keluar dari gym setelah berjuang melawan beban yang lebih berat dari masalah hidupnya.

Bulu halus di perutnya tumbuh seperti rumput liar di taman yang tidak terawat, sementara kulit sawo matangnya berkilau seperti patung emas yang baru dicat.

Alat kelaminnya tampak menggantung dengan anggun, keluar dari rambut kemaluan yang hitam dan lebat, cukup besar meski dalam keadaan tidak ereksi.

Setiap pemuda yang melihatnya pasti akan mendesah saat melihatnya sekilas, membandingkan ukuran mereka dengan milik Ragil. Setiap kali Ragil muncul tanpa busana, suasana jadi seperti festival rasa malu.

Banyak yang merasa seperti ikan di darat, berusaha menutupi bagian-bagian yang seharusnya tidak terlihat, seolah-olah mereka sedang bersembunyi dari paparazzi.

Rasa percaya diri mereka seolah-olah terbang ke bulan, sementara Ragil dengan santainya berpose seperti model majalah, membuat semua orang merasa seperti bintang cadangan yang tidak pernah dipanggil.

Sementara itu, Ragil dengan tenang melanjutkan ritual mandinya, seolah-olah dia adalah raja di kerajaan air.

Semua orang di sekitarnya berusaha untuk tidak melihat, tetapi mata mereka seolah-olah memiliki magnet yang menarik mereka ke arah Ragil.

Mungkin mereka harus membuat peraturan baru: "Dilarang mandi telanjang di depan orang-orang yang merasa insecure!" Agar semua orang bisa kembali percaya diri dan tidak merasa seperti karakter dalam komedi situasi yang aneh.

Tak lama berselang, dua pemuda muncul dari balik semak-semak, berdiri dengan gaya seolah-olah mereka baru saja keluar dari rumah mode perancis.

Mereka mengawasi orang-orang yang sedang mandi di bawah, seolah-olah sedang menilai siapa yang layak mendapatkan penghargaan "Mandi Terbaik Tahun Ini"

Salah satu dari mereka, si pemuda tampan berkulit cerah, berdiri di depan dengan pose yang bisa bikin patung cemburu.

Pakaian rapi dan wajah menawannya membuatnya terlihat seperti model, sementara alis tebalnya seolah berkata, "Lihatlah, aku adalah raja dari sendang ini!"

"Kamu yakin aku bisa mandi di sini? Dulu, waktu aku nekat mandi di sungai, aku mengalami gatal-gatal selama seminggu! Dan lihatlah, di sini orang-orang mandi tanpa malu-malu dan privasi, kayak di reality show!" keluhnya kepada temannya yang berdiri di samping.

"Aku berencana untuk mandi, tetapi hanya setelah mereka semua pergi. Oh, dan lihatlah jalan menuju sendang itu, sepertinya lebih pas untuk balapan mobil off-road ketimbang sekadar jalan biasa!" Dia melanjutkan sambil melirik ke arah orang-orang yang sedang mandi.

Di tengah keramaian sendang, beberapa orang yang mendengar keluhan pemuda itu terhenti sejenak, menatap ke atas dengan wajah penuh kebingungan, seolah-olah mereka sedang menyaksikan makhluk asing yang terlalu banyak mengeluh hanya karena masalah mandi. Ragil dan Danu saling bertukar pandang, berusaha menahan tawa sambil mengamati situasi tersebut dari kejauhan.

"Siapa sih mereka itu?" tanya Ragil sambil mengernyitkan dahi ke arah Danu.

"Hmm... kalau tidak salah, itu Aji, anaknya Pak Dirja. Harusnya kamu udah kenal, dia yang bakal nikah sama Sumi minggu depan," jawab Danu sambil mengangkat bahu, seolah itu adalah informasi yang sangat penting.

"Mau mandi kok repot banget" gumam Ragil sambil melirik Aji yang tampak ragu-ragu.

"Ya, namanya juga orang kota, mungkin dia udah lupa cara mandi di desa" kata Danu dengan nada penuh pengertian.

"Orang kota dari hongkong? Dia kan lahir di kampung! Drama banget, sok-sokan tinggi," balas Ragil sambil menggelengkan kepala.

Sementara itu, Aji akhirnya memutuskan melangkah turun ke arah sendang, ditemani seorang pemuda, seolah-olah dia sedang berjalan di atas karpet merah, menunggu momen yang tepat untuk mandi.

Beberapa orang sudah selesai berendam dan pergi, meninggalkan Ragil dan Danu yang masih asyik berbasah-basahan.

Aji yang melihat pemandangan itu merasa seperti penonton di bioskop, menunggu filmnya dimulai, tapi sayangnya, filmnya adalah orang mandi.

Aji pun berdiri disamping sendang dengan ekspresi campur aduk, menatap Ragil dari belakang. "Eh, bisa nggak kalian cepat-cepat mandi? Aku juga mau nyemplung sebelum gelap," ujarnya dengan nada mendesak.

Ragil yang sudah kesal dengan pemuda ini menjawab tanpa menoleh, "Ini tempat umum, kenapa harus nunggu kami?!"

Aji pun merasa canggung, "Aku nggak biasa mandi di depan orang lain."

Ragil pun balik badan, menatap Aji dengan percaya diri, "Kenapa harus bersikap berlebihan? Di tempat umum pun harus mengistimewakan diri?" Ragil berbalik

"Seharusnya kamu mandi di rumah, bukan di sini," lanjutnya dengan nada sinis.

Ragil kini berdiri tanpa sehelai benang pun, berbalik menghadap Aji dengan percaya diri, memperlihatkan tubuhnya yang kekar dan benda yang menggantung di antara kakinya, sementara Danu, yang lebih kecil, mengikuti dari belakang seperti bayangan yang lucu.

Aji tertegun, matanya melebar seperti kucing yang melihat ikan, terpesona oleh pemandangan di depannya, seorang pemuda yang tampak seperti pahlawan dari film action, berpikir bahwa ia telah menemukan sosok yang sangat beruntung.

Ragil menunjukkan pesonanya yang luar biasa, seorang pemuda dengan aura jantan dan penampilan menawan, sementara Danu tampak seperti karakter komedi yang terjebak dalam situasi yang salah.

Aji, yang awalnya hanya ingin mandi membersihkan diri, kini merasa seperti penonton di bioskop yang tidak bisa berhenti menonton film yang penuh kejutan, berpikir bahwa mungkin, hanya mungkin, ia telah menemukan bintang baru di dunia hiburan.

Dia akhirnya menoleh dengan wajah yang congkak, "Ya, mau bagaimana lagi? Mandi di sini adalah satu-satunya pilihan yang tersisa," ujarnya dengan gaya seolah-olah dia adalah raja di kerajaan air.

"Kamu tidak takut kesombonganmu akan terhapus seperti sabun di air?" sindir Ragil sambil tertawa, seolah-olah dia baru saja mendengar lelucon terbaik di dunia.

Setelah selesai mandi, Ragil dengan percaya diri mengenakan pakaiannya dan melangkah pergi.

Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan Aji dan langsung menghentikan langkahnya.

Mereka saling menatap dengan intens, seolah-olah sedang beradu pandang dalam kompetisi yang tidak ada hadiahnya.

Keheningan di antara mereka begitu tegang, mungkin karena Ragil baru saja menghabiskan waktu berendam di air, dan Aji tidak tahu harus berkata apa.

Tiba-tiba, Ragil melakukan gerakan cepat, seolah-olah ingin mendorong Aji ke belakang, seperti seorang pesulap yang ingin menunjukkan trik sulapnya.

Aji yang terkejut langsung mundur, tetapi sayangnya, jalan sempit itu tidak mendukung aksi heroiknya.

Saat kakinya melangkah mundur, ia terperosok ke dalam lumpur sawah yang licin, dan seketika itu juga, ia berubah menjadi bintang iklan sabun mandi, lengkap dengan efek suara "splash!" yang dramatis.

"Eh... kamu!!" teriak Aji sambil menunjuk Ragil dengan ekspresi muram.

"Apa?? Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Ragil dengan nada santai.

"Kamu sengaja ingin mendorongku!" balas Aji, wajahnya tampak masam.

Kemudian dalam usaha heroiknya untuk menyelamatkan diri dari lumpur, Aji malah menarik orang di sampingnya, dan alhasil, mereka berdua terjun bebas ke dalam lumpur.

"Aduh..." Aji berteriak kesal, sementara Ragil hanya tertawa terbahak-bahak dan melangkah pergi.

"Mandi segera sana!!, kamu udah kayak monster lumpur!" teriak Ragil sambil melambai, seolah-olah baru saja melihat pemandangan yang sangat lucu.

Danu, yang mengikuti Ragil, berlari kecil di belakangnya seperti anjing peliharaan yang tidak mau ketinggalan.

Mereka berdua tiba di jalan setapak di atas sendang, di mana Ragil tiba-tiba berhenti, seolah-olah dia baru saja mengingat sesuatu, dia melongok kebawah kearah sendang untuk mengamati Aji dan temannya yang tampak seperti monster lumpur yang sedang berjuang membersihkan diri dari kekacauan.

Tiba-tiba, Ragil mendapatkan ide gila yang bisa membuatnya jadi raja lelucon.

Dia mengambil lumpur dari tepi jalan dan mulai membentuknya menjadi bola-bola sebesar kepalan tangan, seolah-olah dia sedang membuat bakso.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Danu dengan ekspresi bingung

"Diam saja dan lihat, jangan banyak tanya," jawab Ragil dengan nada misterius.

Setelah berhasil membuat empat bola lumpur yang tampak menggoda, Ragil dengan bangga menyerahkan dua bola kepada Danu, sementara dua lainnya ia simpan di telapak tangannya, seolah-olah itu adalah harta karun yang sangat berharga.

"Ayo, ikuti aku!" perintah Ragil dengan semangat.

Danu pun mulai meragukan akal sehatnya, "Apa kamu yakin ini ide yang bagus?" tanyanya, menyadari bahwa sahabatnya memang punya rencana yang sedikit nakal.

"Orang kota itu butuh sedikit kejutan, he..he.." Ragil tertawa licik, dan mereka pun bersembunyi di balik semak-semak, siap untuk memberikan pelajaran yang tak terlupakan kepada Aji dan temannya.

Di pinggir sendang yang damai, Aji dan sahabatnya sedang menikmati momen mandi yang seharusnya bikin segar, tapi malah jadi ajang drama.

"Ini hari sial banget, belum sempat nyelam, eh baju malah jadi kotor kayak bekas perang," keluh Aji sambil melotot ke arah baju yang tergeletak.

"Ayo cepat, kita mandi sebelum hari gelap dan tambah dingin!" seru temannya, berusaha mengalihkan perhatian Aji dari baju yang malang itu.

"Aku janji, kalau ketemu dua orang itu lagi, mereka bakal merasakan balas dendam yang epik!" gumam Aji dengan semangat, sambil melepaskan pakaiannya dan bersiap untuk mandi.

Namun, saat air menyiram kulitnya, tiba-tiba benda-benda dari langit meluncur seperti pesawat yang kehabisan bahan bakar dan jatuh ke permukaan air sendang, memicu percikan yang bikin suasana tenang berasa di tengah badai.

Aji dan temannya langsung terkejut, seolah baru saja melihat hantu yang lagi selfie.

Wajah Aji pun berubah muram, seperti melihat mantan yang sudah bahagia dengan orang lain, saat air sendang yang jernih itu tiba-tiba berubah jadi keruh.

"Ahhhh...!" teriaknya sekuat tenaga sambil menengadah, seolah berharap benda-benda itu kembali ke langit seperti boomerang yang salah arah.

Di atas sendang, Ragil dan Danu berlari menjauh, tak bisa menahan tawa melihat kekacauan yang mereka buat.



Note: Tolong tinggalkan kritik dan saran jika anda suka cerita ini.


Komentar

Ads

Postingan populer dari blog ini

Anak Semata Wayang # 12

Anak Semata Wayang # 1

Anak Semata Wayang # 9