Anak Semata Wayang # 1
Bab 1 Anak Ragil
Mbok Ginem adalah seorang janda yang memiliki seorang putra bernama Ragil, yang kini berusia delapan belas tahun. Mereka tinggal di sebuah rumah tua yang terbuat dari anyaman bambu, khas rumah Jawa, yang terletak di pinggir sawah desa. Sejak suaminya meninggal empat tahun yang lalu, Mbok Ginem dan Ragil menjalani hidup dengan sederhana, mengandalkan ladang kecil yang ditinggalkan oleh almarhum suaminya.
Ragil mungkin tidak lahir dari keluarga yang kaya, tapi dia punya pesona yang bikin dia beda dari teman-temannya. Dengan tubuh yang tinggi, kulit sawo matang, dan wajah yang menarik, dia sering jadi pusat perhatian di desanya.
Pagi hari di desa itu selalu memberikan nuansa damai yang khas. Saat matahari mulai muncul, cahaya keemasan mulai menyebar, membangunkan semua makhluk hidup di sekitarnya. Udara yang masih sejuk dan sedikit berkabut seakan memeluk setiap orang di desa. Di rumah kecilnya, Mbok Ginem sudah bangun lebih awal, menyiapkan sarapan untuk mereka berdua di dapur sederhana yang ada di sudut rumah dengan lantai yang masih terbuat dari tanah.
Dapur kecil di sudut belakang rumah itu kini dipenuhi dengan wangi masakan yang bikin ngiler. Mbok Ginem dengan sigap mengolah semua bahan yang ada, menghasilkan hidangan yang sederhana tapi sarat dengan kasih sayang. Setiap gerakan tangannya menunjukkan kebiasaan yang sudah terbangun selama bertahun-tahun.
"Gil... Ragil..." suara Mbok Ginem memanggil anaknya dari dalam dapur. Asap tebal mengepul dari tungku kayu yang terbuat dari tanah liat, di mana sebuah wajan hitam legam terletak, hasil dari bertahun-tahun pemakaian.
Suara minyak panas yang meletup-letup di penggorengan membuat suasana semakin hidup, meskipun sesekali Mbok Ginem terbatuk karena menghirup asap yang keluar dari tungku. Tangan keriputnya dengan cekatan memasukkan kayu ke dalam tungku sambil menggoreng ikan wader yang ditangkap oleh Ragil di sungai kemarin sore.
"Gil, tolong belikan simbok garam dan cabe di warung Yu Jem. Ini wader yang kamu pancing kemarin sore, simbok mau goreng," teriak Mbok Ginem.
Di dalam kamarnya, Ragil masih terbaring malas di atas bale-bale kayu yang dilapisi tikar, matanya menyipit melihat sinar matahari yang masuk melalui celah-celah dinding gedek yang berlubang. Ia menarik sarungnya kembali menutupi kepala, enggan untuk meninggalkan kenyamanan tempat tidurnya.
"Aku masih ngantuk, Mbok," jawabnya dari dalam kamar. Kamar Ragil ada di samping dapur, cuma dipisahkan oleh sekat dari anyaman bambu yang sederhana.
"Kamu mau sarapan atau enggak? Api sudah menyala, jangan sampai Mbok nunggu lama!" seru Mbok Ginem dengan nada yang tegas.
Ragil menghela napas panjang, berusaha mengusir rasa kantuk yang masih menyelimuti dirinya. "Tunggu sebentar Mbok..." jawabnya pelan.
"Cah bagus, kalau disuruh orang tua ya harus segera pergi, jangan menunda-nunda... cepat cuci muka dan bangun!" desak Mbok Ginem.
"Iya Mbok," sahut Ragil, berusaha bangkit meski matanya masih setengah terpejam.
"Cepatlah... garamnya untuk masakan ini, nanti kamu tidak bisa sarapan," tambahnya.
Ragil bangkit dari tidurnya dengan mata yang masih setengah terpejam, merasakan rasa malas yang menyelimuti dirinya seperti selimut tebal di malam yang dingin. Ia mulai menggerakkan tubuhnya, berusaha melonggarkan otot-otot yang terasa kaku.
Duduk santai di pinggir bale-bale, dia menundukkan kepala, berusaha keras mengumpulkan kembali semangat yang hampir pudar, sambil berharap ada secangkir kopi ajaib yang bisa mengembalikannya ke keadaan semula. Setelah menarik napas dalam-dalam, matanya melirik ke arah bawah perutnya, dan dia tersenyum melihat sesuatu yang sudah tegak berdiri, seolah-olah siap untuk difoto di majalah pria.
Bagian ujung kepalanya yang mirip helm itu sudah menyembul keluar dari celana dalamnya, seakan-akan berusaha memberi salam kepada dunia luar.
"Wah, ini baru namanya bangun tidur yang penuh semangat!" pikirnya, sambil berusaha menahan tawa dan rasa malunya yang mulai muncul.
"Kenapa kamu sudah bangun, sementara aku masih asyik berpetualang di dunia mimpi?" tanyanya dengan suara pelan, sambil menunduk menatap kepala zakarnya yang menyeruak keluar.
Ragil merasa ada dorongan aneh untuk menggerakkan tangannya, seolah-olah ingin memeluk dan mengusap barang yang sudah berdiri tegak itu dengan lembut, seperti mengelus kucing yang baru bangun tidur, ada sensasi nikmat yang otomatis menggerakan tangan nya naik turun secara perlahan lembut membelai batang zakar di dalam celana dalamnya, meresapi sensasi yang membuatnya terbuai.
Setiap gerakan dengan sentuhan lembut terasa semakin melambat, seolah ia ingin menikmati setiap detik dari kenikmatan yang mengalir, membuat napasnya mulai tak teratur, bergetar antara panjang dan pendek, mengikuti irama yang tak terduga.
Wuzz...zz.....Bruakkk!!!!!....
Suara keras terdengar dari luar pintu kamar mengejutkan Ragil. Perhatiannya yang tadinya terfokus langsung teralihkan, dan ia merasakan perubahan drastis saat batang kemaluannya yang semula bersemangat, kini layu seperti sayuran yang terlupakan di sudut kulkas.
Dengan cepat, ia bangkit dan melompat dari bale-bale, dia berusaha memahami apa yang terjadi di luar, Ragil pun melongok keluar dengan hanya mengenakan kolor pendek, penasaran mencari tahu dari mana suara itu berasal.
Dengan wajah yang tampak malas, ia melirik sekeliling kamarnya dan bertanya, "Itu suara apa, Mbok?" sambil matanya jatuh tertuju pada sandal kayu yang tergeletak di depan pintu kamarnya.
"Mbok, ada apa ini?" tanyanya dengan nada setengah mengantuk, seolah-olah baru saja terbangun dari mimpi buruk tentang ikan goreng yang terlalu crispy.
Sementara itu, Mbok Ginem tetap fokus pada tugasnya, seolah-olah menggoreng ikan adalah misi rahasia yang harus diselesaikan dengan sempurna, Mbok Ginem berteriak sekali lagi memerintahkan Ragil untuk segera berbelanja.
"iya, iya Mbok, sebentar aku pakai kaos, takut nanti ada yang culik kalau cuma pake kolor dijalanan"
Mbok Ginem, dengan nada sinis, menjawab bahwa tidak ada orang gila yang mau menculiknya, seolah-olah itu adalah fakta yang sudah teruji.
Ragil, dengan percaya diri yang berlebihan membela diri dengan menyatakan bahwa ia tampan dan banyak janda yang sudah antri ingin menculiknya.
Mbok Ginem mulai merasa kesal karena Ragil terus menjawab, tetapi tidak segera berangkat. Tiba-tiba, sandal kayu meluncur sekali lagi ke arah Ragil dengan cepat, seperti peluru.
Dengan refleks yang luar biasa, Ragil menghindar dan segera nyelonong pergi berlari keluar rumah, seolah-olah ia baru saja melarikan diri dari sirkus yang penuh dengan badut.
------
Ragil berjalan santai di jalan setapak desa, sesekali menyapa warga yang lewat dengan senyum yang menawan. Wajahnya jelas tampak seperti baru bangun tidur, dan setiap kali dia menyapa, penduduk desa terlihat terkejut, mungkin berpikir, "Siapa yang membiarkan dia keluar dari tempat tidur?" Dengan rambut yang berantakan dan mata setengah terpejam, Ragil benar-benar mencerminkan ungkapan "bangun tidur, langsung beraksi!" Sepertinya dia butuh secangkir kopi dulu sebelum melanjutkan petualangannya!
Dengan postur tubuh yang tinggi dan atletis, dia tampak seperti bintang dari majalah kebugaran, dengan otot-otot yang menonjol. Lengan kekarnya terlihat seolah baru saja menyelesaikan latihan angkat beban, sementara otot dadanya yang bidang seakan memancarkan daya tarik yang tak bisa diabaikan, seolah berbisik, "Perhatikan, aku bukan hanya kuat, tetapi juga siap merebut hatimu!"
Rambutnya yang agak acak-acakan dan bulu ketiak yang menyembul dengan percaya diri menegaskan bahwa dia adalah pencinta gaya hidup alami. Kulit sawo matangnya berkilau di bawah sinar matahari, memancarkan pesona maskulin yang tak terbantahkan.
Dengan penuh percaya diri, ia melangkah sambil menyampirkan kaos di pundaknya, memperlihatkan perutnya yang rata dihiasi bulu halus yang tumbuh dari pusar dan semakin lebat di bagian bawah. Wajahnya yang muda dan tampan, ditambah senyum lesung pipi yang memikat, mampu membuat siapa pun yang memandangnya merasakan getaran cinta yang seolah-olah menghantam mereka seperti sebuah mobil yang melaju kencang. Ayah Ragil sepertinya telah menurunkan gen ketampanan yang luar biasa kepada anaknya.
Dengan langkah santai dan percaya diri, dia membuat setiap langkahnya terasa seperti parade, dan semua orang di sekitarnya seolah-olah menjadi penonton yang terpesona.
Ragil melangkah ke warung yang terletak di tengah desa, warung ini dikelola oleh Yu Jem, seorang janda muda yang bukan hanya cantik, tetapi juga ahli dalam merias wajahnya. Tak heran jika banyak lelaki dan pemuda yang betah berlama-lama di sana, menyeruput kopi dari pagi hingga siang, seolah-olah mereka sedang menunggu undangan pernikahan dari Yu Jem.
Suasana warung itu selalu ramai, di mana para pemuda berkumpul bukan sekadar untuk menikmati secangkir kopi, melainkan juga untuk "menanamkan modal" dalam senyuman menawan Yu Jem. Mereka tampak melupakan segala urusan dan waktu, lebih terfokus pada usaha menarik perhatian sang janda yang memikat hati. Dengan segala pesonanya, Yu Jem berhasil membuat warungnya menjadi tempat nongkrong yang paling hits di desa, di mana kopi dan cinta berbaur dalam satu cangkir!
Di tikungan jalan Ragil tiba-tiba berpapasan dengan Danu, sahabatnya yang seumuran dan tampaknya juga sedang berusaha menemukan jalan menuju warung Yu Jem.
"Eh Dan, pagi-pagi mau ke mana? Cari sarapan atau cari jodoh?" tanya Ragil dengan semangat yang menggebu.
"Ngopi seperti biasa, sambil menikmati makanan di Yu Jem, he..he.." jawab Danu, yang dengan mulut nyegir.
Danu, si pemuda berkulit putih yang sedikit lebih pendek dari Ragil, memiliki wajah bulat dan pipi tembem yang seolah-olah selalu siap untuk dicubit. Tanpa ragu, Ragil pun merangkul Danu dan langsung mencubit pipi temannya itu, seolah-olah itu adalah tradisi pagi yang wajib dilakukan!
"Kamu udah kangen sama Yu Jem di pagi hari?"
Danu pun langsung menyikut pinggang Ragil, sambil menolak tangan yang berusaha mencubit pipinya.
"Aduh, jangan cubit-cubit pipi, aku bukan bayi lagi!" Danu menjawab dengan wajah cemberut
"tapi pipimu masih seperti bayi, lembut merah merona kayak tomat" seringai Ragil
"Kamu sendiri ngapain? gak biasanya pagi-pagi begini ketempat Yu Jem?"
Ragil meringis memegangi pinggangnya seolah-olah baru saja digigit nyamuk, lalu menjelaskan bahwa ia harus beli bumbu karena disuruh simboknya.
"Eh, Gil, kamu udah denger belum? Sumi mau nikah minggu depan!" Danu memulai percakapan dengan nada antusias, seolah-olah baru saja menemukan harta karun.
"Serius, Dan? Dari mana kamu dapat info itu?"
"Undangannya udah beredar di desa, masa kamu belum lihat?" jawab Danu dengan percaya diri.
"Dia mau nikah sama siapa?"
"Sama Aji, anak Pak Carik Dirja dari kampung sebelah," jawab Danu dengan santai, seolah-olah baru saja mengungkapkan rahasia dapur.
Ragil langsung terbayang sosok Aji, pemuda narsis yang selalu merasa paling tampan di desa, dan cemburu mulai menggerogoti hatinya seperti tikus kelaparan.
Ragil kemudian hanya menggumam pelan, tampak seperti orang yang baru bangun tidur dan belum sepenuhnya sadar.
"Kok cuma 'mmm' sih? Ingat kan, Sumi itu dulu kan pacar mu? Dia sering nempel ke kamu kayak perangko, bahkan aku ingat dia nangis saat kamu tolak cintanya," Danu menambahkan, berusaha menggali lebih dalam seperti detektif yang sedang menyelidiki kasus cinta yang hilang.
"Siapa yang pacarnya siapa, jangan sembarangan ngomong!" teriak Ragil sambil menempeleng kepala Danu, lalu berlari mendahuluinya.
Danu hanya bisa meringis, merasa seperti ditinggal pacar di tengah jalan.
Teman yang satu ini sungguh luar biasa! Dengan wajah yang tampan dan tubuh kekar layaknya pahlawan super, siapa yang bisa menolak daya tariknya? Penampilannya yang memikat dan postur atletisnya membuat banyak gadis selalu merasakan getaran yang tak tertahan, seolah-olah mereka terkena sihir cinta.
Dalam benaknya, Danu memuji, "Pesona Ragil ini bagaikan magnet, begitu sulit untuk diabaikan!"

Komentar
Posting Komentar