Postingan

Anak Semata Wayang # 12

  Bab 12 Melihat Film Hari ini adalah hari bahagia bagi Aji dan Sumi yang menggelar pernikahan, sementara Ragil merasa seperti burung merdeka yang baru saja keluar dari sangkar. Aji, yang biasanya lengket seperti lem super, hari ini hilang bak ditelan bumi. Ragil pun merasa lega, seolah-olah beban berat di punggungnya hilang seketika. Bayangkan saja, selama ini Aji selalu menempel seperti perangko, mengikuti Ragil ke mana pun, dari rumah, ladang, hingga saat Ragil berusaha menikmati momen tenang di sendang. Kini, Ragil bisa bernapas lega tanpa khawatir Aji tiba-tiba muncul di belakangnya dengan senyum lebar dan pertanyaan yang sama: "Mau ke mana?". Mungkin Aji sedang sibuk dengan persiapan pernikahan, atau mungkin dia sedang bersembunyi dari Ragil, takut ditanya tentang rencana masa depan. Yang jelas, Ragil bertekad untuk menikmati hari ini tanpa gangguan, sambil berharap Aji tidak tiba-tiba muncul dengan kostum pengantin! Pesta pernikahan Aji berlangsung meriah di malam hari...

Anak Semata Wayang # 11

Bab 11 Imajinasi Malam telah larut, jarum jam menunjukkan pukul sebelas, tetapi Aji masih terjaga, terperangkap dalam labirin pikirannya yang tak berujung. Ia berbaring telentang, mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasur, seolah mencari posisi yang bisa meredakan kegelisahan yang terus mengganggu. Dalam benaknya, terbayang kembali momen-momen yang telah dilalui dalam beberapa hari terakhir, terutama saat ia bertemu Ragil. Dari pertemuan pertama di sendang, keributan di pasar, hingga saat-saat di ladang, semua itu seakan membekas dalam ingatannya. Aji menghela napas panjang, seakan berusaha melepaskan beban yang menekan pikirannya. "Apakah aku sudah kehilangan akal dengan memikirkan seorang pria di waktu seperti ini?" bisiknya pelan.  Kehadiran Ragil telah memberikan nuansa baru dalam hidupnya, daya tarik pemuda itu begitu menawan, seolah telah merasuk ke dalam jiwanya. Setiap aspek tentang Ragil membuat rasa ingin tahunya semakin membara, dan Aji tak mampu menahan diri unt...

Anak Semata Wayang # 10

  Bab 10 Menawarkan Bantuan Aji itu seperti bayangan yang tak pernah mau pergi, selalu mengganggu Ragil di mana pun dia berada. Hari ini, tanpa rasa malu sedikit pun, Aji mengikuti Ragil ke ladang. Dia bertekad mencari spot yang nyaman dan teduh di tepi ladang, lalu rebahan di bawah pohon sambil mengawasi Ragil bekerja dengan semangat yang menggebu-gebu, seolah-olah Ragil sedang melakukan pertunjukan sirkus. Sementara Ragil berkutat dengan pekerjaannya, Aji berbaring santai, seolah-olah dia adalah raja yang sedang menikmati pertunjukan gratis. Aji akan merasakan kepuasan luar biasa saat melihat Ragil beraksi di ladang. Dengan postur tubuhnya yang tinggi dan berotot, Ragil memancarkan aura kejantanan yang tak terbantahkan. Setiap gerakan yang dilakukannya di tengah ladang akan dipenuhi dengan semangat, sementara tetesan keringat yang mengalir di setiap ototnya menambah pesona maskulin yang dimilikinya, seolah ia adalah seorang atlet binaraga yang sedang berlatih. Dengan mata berbina...

Anak Semata Wayang # 9

   Bab 9 Danu Vs Aji Keesokan harinya, Aji sudah siap dengan rencana jitu untuk mengunjungi rumah Ragil lagi. Dia bertekad untuk menjadi pengantar simbok pulang dari rumah Sumi, padahal sebenarnya dia hanya ingin berlama-lama di rumah Ragil. Seolah-olah dia adalah pengantar resmi, Aji akan berputar-putar di sekitar rumah Ragil, mencari-cari alasan untuk tidak pulang. Mungkin dia akan bilang, "Eh, saya baru ingat, ada yang ketinggalan di sini!" padahal yang ketinggalan itu adalah rasa malunya. Sementara itu, Ragil yang mulai terbiasa dengan kehadiran Aji, akan berusaha mengabaikannya seolah-olah dia adalah hantu yang tidak terlihat. "Aji? Siapa itu?" pikir Ragil sambil menggelengkan kepala. Namun, Aji yang tidak tahu malu akan terus mengusik Ragil dengan berbagai cara, mulai dari menanyakan resep masakan hingga mengajak ngobrol tentang cuaca. Sepertinya, Aji lebih gigih daripada tukang pos yang tidak pernah lelah mengantarkan surat, meskipun suratnya sudah tidak ada ...

Anak Semata Wayang # 8

  Bab 8 Drama Daging Bebek Berlanjut Sore hari Ragil pulang kerumah, begitu Ragil melangkah masuk ke rumah, ia langsung disambut oleh suasana hening yang bikin telinganya berasa seperti di dalam gua. Tidak ada suara berisik, tidak ada aktivitas yang mencolok, dan ibunya? Entah kemana, mungkin sedang bersembunyi dari drama sinetron yang tak kunjung usai. Dalam pikirannya, Ragil berasumsi bahwa ibunya mungkin sedang di rumah bibinya, menikmati teh sambil menghindari cucian yang menumpuk. Ragil merasakan perutnya keroncongan, seperti orkestra yang sedang berlatih tanpa henti. Dia pun melangkah ke meja makan dan terkejut melihat simboknya sudah menyiapkan hidangan yang melimpah ruah. "Wah, simbokku memang jago masak, hari ini sepertinya dia mau jadi chef bintang lima!" gumamnya sambil mengusap perutnya yang sudah berteriak minta diisi. Tanpa membuang waktu, Ragil langsung duduk dan menyerbu makanan yang ada di depannya. Di antara tumpukan makanan, dia melihat bebek panggang yang ...

Ads