Anak Semata Wayang # 9

  

Bab 9 Danu Vs Aji

Keesokan harinya, Aji sudah siap dengan rencana jitu untuk mengunjungi rumah Ragil lagi. Dia bertekad untuk menjadi pengantar simbok pulang dari rumah Sumi, padahal sebenarnya dia hanya ingin berlama-lama di rumah Ragil.

Seolah-olah dia adalah pengantar resmi, Aji akan berputar-putar di sekitar rumah Ragil, mencari-cari alasan untuk tidak pulang.

Mungkin dia akan bilang, "Eh, saya baru ingat, ada yang ketinggalan di sini!" padahal yang ketinggalan itu adalah rasa malunya.

Sementara itu, Ragil yang mulai terbiasa dengan kehadiran Aji, akan berusaha mengabaikannya seolah-olah dia adalah hantu yang tidak terlihat. "Aji? Siapa itu?" pikir Ragil sambil menggelengkan kepala.

Namun, Aji yang tidak tahu malu akan terus mengusik Ragil dengan berbagai cara, mulai dari menanyakan resep masakan hingga mengajak ngobrol tentang cuaca.

Sepertinya, Aji lebih gigih daripada tukang pos yang tidak pernah lelah mengantarkan surat, meskipun suratnya sudah tidak ada yang mau dibaca!

Aji sudah bertekad untuk melakukan segala cara agar bisa mendekati Ragil, bahkan sampai merencanakan strategi seperti seorang jenderal perang.

Namun, Ragil tampaknya lebih fokus pada dunia sendiri, seolah-olah Aji adalah hantu yang tidak terlihat.

Setiap kali Aji mencoba mendekati Ragil, rasanya seperti mencoba mengajak kucing bermain air—sama sekali tidak berhasil! Ragil lebih memilih untuk asyik dengan dunianya sendiri, sementara Aji terpaksa beralih ke mbok Ginem yang selalu siap sedia dengan cerita-cerita lucu dan resep masakan.

Akhirnya diapun lebih banyak menghabiskan waktu ngobrol dengan mbok Ginem, yang setidaknya mau mendengarkan keluh kesahnya.

Hari ini, Aji tampaknya sudah menyiapkan strategi baru untuk mendekati Ragil. Setelah rutin mengantar Mbok Ginem ke rumah Ragil, kali ini dia datang dengan membawa makanan.

Dengan gaya sok akrab, dia berencana menyAjikan hidangan yang dia bawa sendiri, sambil berusaha mengalihkan perhatian Ragil dari dunianya yang sepertinya lebih menarik daripada Aji.

Sambil mengatur napas dan berlatih senyum termanis, Aji berharap makanan yang dia bawa bisa jadi jembatan untuk mengobrol.

"Eh, gil, coba deh ini, makanan spesial dari dapur Sumi!" ujarnya dengan semangat, meski sebenarnya dia hanya memanaskan makanan dari warung sebelah. Semoga saja Ragil tidak menyadari bahwa "spesial" itu artinya "sisa kemarin"!

Ragil sudah belajar dari pengalaman pahitnya yang lalu, di mana dia menolak makanan dan berakhir dengan rasa malu.

Kali ini, dia bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan itu. Makanan di depannya seperti magnet yang menarik, dan dia menyantapnya tanpa rasa malu, seolah-olah dia baru saja memenangkan lotere makanan.

Aji? Ah, siapa dia? Ragil lebih memilih untuk berfokus pada piringnya yang penuh daripada menghabiskan waktu untuk memikirkan keberadaan Aji yang sepertinya lebih mirip hantu.

Sambil menyantap makanan dengan lahap, Ragil berusaha keras untuk tidak melihat Aji yang terus berusaha mengajaknya berbincang.

Dia merasa seperti seorang raja yang sedang menikmati hidangan mewah, sementara Aji hanya bisa menjadi pelayan yang terabaikan. "Maaf, Aji, aku sedang sibuk dengan makanan ini," pikirnya sambil mengunyah.

Dalam hatinya, dia berjanji untuk tidak lagi terjebak dalam drama makanan yang diciptakan orang ini.

Sementara itu, Aji yang duduk di sebelahnya hanya bisa geleng-geleng kepala, merasa seperti penonton dalam pertunjukan komedi yang tidak ada habisnya.

Besoknya di sore hari, Aji sudah siap-siap dengan rencana baru yang lebih cerdik. Dia menunggu Ragil di pinggir jalan setapak menuju sendang.

Hari ini, dia punya ide brilian: mandi bareng Ragil di sendang! Siapa tahu, dengan basah-basahan itu, mereka bisa jadi lebih akrab, atau setidaknya, Aji bisa menghindari percakapan canggung tentang cuaca.

Setelah menunggu dengan penuh kesabaran, Aji akhirnya melihat sosok yang ditunggu-tunggu di ujung jalan.

Ternyata, sosok itu tidak melangkah sendirian, melainkan ditemani oleh Danu, pemuda yang lebih kecil dan tampak seperti adik yang selalu mengikuti kakaknya.

Keduanya melangkah beriringan menuju sendang, seolah-olah sedang melakukan parade.

Dari kejauhan, orang-orang bisa mengenali Ragil yang tinggi, atletis, dan berotot, berjalan dengan gaya yang sangat gagah, sementara Danu, si pemuda pendek yang putih dan cantik, tampak seperti bintang iklan sabun mandi yang baru saja keluar dari layar televisi.

"Hai, aku sudah menunggu mu sampai berlumut disini!" seru Aji sambil melompat berdiri di samping Ragil.

"Kamu nunggu kami? emang mau kemana kamu menunggu kami?" tanya Danu dengan wajah bingung, seolah baru bangun dari tidur siang yang sangat panjang.

"Ya jelas, mau mandi di sendang!" jawab Aji dengan semangat, seolah itu adalah rencana liburan paling seru yang pernah ada.

Danu ternganga mendengar jawaban Aji, "Kamu serius mau mandi di sendang bareng kami?!" tanyanya, memastikan bahwa dia tidak salah dengar.

"Emangnya kenapa? Apa ada yang aneh?" balas Aji dengan nada bertahan.

"Tapi kan kamu pernah bilang kalau kamu alergi sama mandi di tempat umum! Sekarang kenapa tiba-tiba pengen nyemplung di sendang?" Danu menambahkan sambil mengangkat alisnya yang seolah-olah bisa terbang.

Aji pun merengut, "Tutup mulutmu, Danu! Pergi sana, minggir!" katanya sambil mendorong Danu ke belakang, seolah Danu adalah penghalang utama dalam misi rahasianya untuk mendekati Ragil, yang entah kenapa selalu jadi magnet penasaran dirinya.

Danu pun berjalan dengan wajah cemberut, mengikuti langkah Aji dan Ragil dari belakang, seolah-olah dia adalah pengawal pribadi mereka berdua.

Di sisi lain, Ragil berjalan santai seperti seorang pemandu wisata yang tidak peduli dengan keributan di belakangnya.

Mungkin dia berpikir, "Dua orang ini sama-sama ribut, kenapa harus saya yang repot?" Seolah-olah dia sedang menikmati pertunjukan komedi gratis, sambil berharap popcornnya tidak tumpah di jalan.

Begitu sampai di sendang, Ragil dan Danu langsung beraksi seperti superhero yang baru saja mendapatkan kekuatan baru, melepas pakaian mereka dengan telanjang bulat meloncat ke sendang.

Sementara itu, Aji berdiri di samping mulai ragu, wajahnya terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu. Dia mulai berpikir, "Apakah saya harus ikut bergabung dalam pesta telanjang ini? Atau cukup jadi penonton yang ternganga sambil memegang handuk seperti bintang film yang bingung?"

Ragil dan Danu sudah asyik berendam di dalam air, sementara Aji masih terjebak dalam dilema yang bikin pusing. Dia berusaha memutuskan apakah harus terjun ke dalam air tanpa sehelai benang pun atau tetap mandi dengan celana pendek.

"Eh, bro, kan kamu tadi bilang mau ikutan mandi bareng kita, tapi sekarang malah jadi patung di situ?!" sindir Danu dengan senyum mengejek.

Aji hanya mendengus pelan, seolah-olah sedang berdebat dengan angin.

Di tepian telaga, Ragil dan Danu sudah asyik menggosok badan mereka, seolah-olah mereka sedang mempersiapkan diri untuk audisi iklan sabun mandi.

"Kamu mau jadi penonton doang di situ?" teriak Danu sambil melambai-lambaikan tangan.

"Tutup mulutmu!" balas Aji dengan nada yang lebih sengit dari suara alarm pagi.

Akhirnya, dia pun melepaskan pakaian yang menempel di tubuhnya dan melangkah ke air sendang, meski celana dalamnya masih setia menempel.

Sepertinya, Aji butuh sedikit keberanian ekstra untuk melawan rasa malu yang mengintip dari balik semak-semak!. Ketiganya duduk berjajar disamping sendang dengan posisi Ragil di tengah. Aji mulai merendamkan tubuhnya ke dalam air, sambil merasakan rasa canggung yang menggelitik di hatinya.

Bayangkan saja, mandi telanjang di tempat umum dengan orang dewasa! Rasanya seperti sedang berpartisipasi dalam reality show yang tidak pernah dia inginkan.

"Kalian tidak merasa malu mandi telanjang di sini?" tanya Aji dengan nada setengah khawatir.

Ragil langsung menjawab dengan percaya diri, "Kenapa harus malu? Kita kan sama-sama laki-laki, tidak ada yang perlu ditutupi!"

Dia melanjutkan dengan senyuman lebar, seolah-olah mereka sedang membahas cuaca, bukan tentang kebiasaan mandi yang aneh ini.

Aji hanya bisa menggelengkan kepala, sambil berpikir, "Mungkin ini adalah cara baru untuk menghilangkan rasa malu... atau justru menambahnya!"

"Hmm... mungkin bagi kamu itu bukan hal yang memalukan, malah aku yakin kamu bangga banget bisa tampil telanjang di depan orang lain. Apalagi ukuran kelamin kamu itu, wah……., bisa bikin orang-orang pada bertepuk tangan!" kata Aji sambil melirik dengan mata melotot, seolah-olah melihat pemandangan langka yang baru saja muncul di depan matanya.

"Aku jadi kasihan sama Danu, ya. Bayangkan dia harus berhadapan dengan ukuran 'punyamu' yang kayak langit dan bumi, pasti dia bisa stres berat! Aku khawatir dia bakal butuh terapi setelah ini," kata Aji sambil tertawa.

"Eh, ada apa sih dengan ukuran burungku? Kenapa kamu jadi banding-bandingkan dengan punya Ragil?" protes Danu dengan wajah bingung.

"Yah, coba deh lihat, punyamu itu kecil, mungil dan lucu! Kalau dibandingin sama punya Ragil, itu kayak ngebandingin semut sama gajah!" ejek Aji sambil ngakak.

"Eh, jangan sembarangan ngomong! Emang sih, sekarang keliatan kecil, tapi pas ereksi, bisa jadi kayak balon udara, empat kali lipat!" bantah Danu dengan semangat.

"Cuih, itu mah omong kosong!" ejek Aji sambil melirik Danu.

"Dan siapa bilang aku minder dengan ukuran burungku? Meskipun kecil, ini udah jadi buruan janda desa, loh! Hahaha!" katanya sambil tertawa bangga.

Di tengah-tengah mereka, Ragil cuma bisa duduk diam, merasa kedua temannya ini sama-sama bikin ribut.

"Katakan padaku apa kamu pernah ke dukun buat memperbesar ukuran burungmu?" tanya Aji dengan nada menggoda Ragil.

"Eh, omong kosong apa yang kamu bicarakan? Itu semua alami, bro!" jawab Ragil sambil menggelengkan kepala, seolah-olah Aji baru saja bilang dia bisa terbang.

"Tapi serius, lihat deh! Walaupun lagi lunglai, ukurannya masih dua kali lipat dari ukuran normal orang dewasa. Bahkan urat-urat di batangnya udah kayak jalan tol!" Aji melanjutkan dengan penuh rasa ingin tahu dan tangannya menunjuk kearah kemaluan Ragil.

"Aku penasaran, kalau dia bener-bener berdiri, apa dia bisa menjulang sampai ke langit dan menantang surga?" Aji tertawa antara takjub dan ngeri membayangkannya.

"Bolehkah aku memegangnya?" tanya Aji lagi dengan wajah merah seperti tomat yang baru dipetik. Dia seolah-olah meminta izin untuk memegang harta karun yang sangat berharga.

"Kamu mau mati?" balas Ragil dengan tatapan tajam seperti mata elang yang sedang mengincar mangsa. Dia jelas-jelas menolak permintaan Aji yang absurd itu

"Anak ini sudah kelewat batas, apa dia pikir alat vital orang lain itu barang pajangan yang bisa dipegang sembarangan?" seru Danu dengan nada sinis.

"Eh, mungil! Bukan aku yang aneh, aku cuma pengen tahu, itu asli atau hasil sulap dokter?" Aji berusaha menjelaskan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Siapa yang kau panggil mungil, huh?" Danu berteriak dengan nada marah.

"Kalau bukan mungil, itu lebih mirip tusuk gigi yang hilang di antara gigi-gigi besar!" Aji pun tak mau kalah, langsung melontarkan ejekan yang lebih kejam.

"Ini masih lebih baik, meski kecil, tapi aku bangga! Lihat dirimu, banyak omong tapi malu buka celana dalam di depan orang lain. Jangan-jangan itu bercabang dua batangnya!" ejek Danu sambil tertawa.

Aji yang mendengar itu langsung merespons dengan wajah penuh percaya diri, "Apa yang kau bualkan? Apa kau ingin melihatnya?"

Danu dengan penuh percaya diri menantang, "Ayo, buka kalau berani!"

Aji yang tak mau kalah langsung menjawab, "Pasti punyaku lebih besar dan menawan daripada punya kamu!"

Dengan semangat yang membara, dia pun membuka celana dalamnya dan menunjukkan alat vitalnya seolah-olah baru saja meraih medali emas di Olimpiade.

Danu hanya bisa melongo, "Wah, ternyata ini lebih mirip trofi Piala Dunia daripada alat vital!"

"Kenapa itu botak polos tanpa rambut? Apa itu rontok karena sudah menopause?" celetuk Danu

Ragil yang sedari tadi diam melihat dua orang itu bertengkar juga tersenyum melihat area kemaluan Aji bersih tanpa rambut, itu mulus seperti kemaluan anak-anak

Muka Aji berubah merah, antara malu dan marah karena ejekan Danu.

"Kamu mau berkelahi? Ayo sini kalau berani!" teriak Aji sambil melayangkan pukulan ke arah Danu.

Namun, Danu yang cerdik langsung berlindung di balik badan Ragil, seolah-olah Ragil adalah perisai superhero yang siap melindungi dari serangan Aji. Alih-alih mengenai Danu, Aji malah terjatuh ke pelukan Ragil dengan gaya yang sangat dramatis, seolah-olah mereka sedang berlatih untuk film romantis.

Ragil, yang terkejut, secara refleks menahan Aji dan memegang tangannya yang ingin memukul Danu. Sekarang, Danu hanya bisa ternganga melihat dua pria telanjang bulat berpelukan, dan Aji merasakan kehangatan tubuh Ragil, bahkan kedua kontol mereka berdempetan seolah-olah sedang berkenalan. Ini bukan pertarungan, ini adalah drama komedi yang tidak terduga!

Aji berusaha untuk menjauh dari Ragil, tapi entah kenapa, tangannya malah meluncur ke arah yang tidak seharusnya, salah satu tangannya secara tanpa sadar mendekap batang zakar Ragil, seolah-olah ada magnet yang menariknya.

Ragil pun merasakan sensasi aneh, area sensitifnya lagi-lagi dipegang oleh orang asing, bahkan kali ini lebih parah karena orang ini memegangnya secara lansung dengan tangannya, itu seperti disetrum listrik saat bagian sensitifnya dipegang oleh orang yang tidak dikenal. Rasanya seperti nonton film horor, tapi ini lebih bikin malu daripada takut!

Dalam keadaan panik, Ragil langsung menarik Aji dan mendorongnya ke dalam sendang, seolah-olah itu adalah tempat pelarian dari situasi canggung ini.

"Dasar bocah cabul, benar-benar tidak ada hal yang bagus tiap kali berurusan denganmu!" teriak Ragil dengan nada yang lebih dramatis dari sinetron. Wajah Ragil pun berubah sehitam kopi tanpa gula, sementara Danu tertawa puas melihat Aji yang terjun bebas ke dalam sendang.


Komentar

Ads